Pemandangan salah satu sudut kota Moskow, Rusia. (Anadolu Agency)
Rusia Siap Salurkan Pinjaman Rp17 Triliun ke Iran di Tengah Sanksi AS
Muhammad Reyhansyah • 6 October 2026 16:33
Teheran: Rusia telah menyelesaikan persiapan untuk memberikan pinjaman senilai USD1 miliar atau sekitar Rp17,89 triliun kepada Iran, dengan dana yang siap ditransfer setelah Teheran memberikan rincian rekening bank.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency, Selasa, 6 Oktober 2026, proses persiapan telah diselesaikan.
Namun, pencairan dana tertunda akibat perbedaan pandangan di antara sejumlah lembaga pemerintah Iran mengenai penggunaan pinjaman tersebut.
"Organisasi Perencanaan dan Anggaran Iran menginginkan dana tersebut digunakan untuk mengimpor kendaraan. Sementara itu, Kementerian Perminyakan mengusulkan pembelian peralatan untuk industri minyak," sebut laporan Fars, dikutip dari Anadolu.
Kementerian Pertanian Iran juga menginginkan dana tersebut dialokasikan untuk impor barang-barang kebutuhan pokok.
Menurut laporan Fars, belum ada keputusan final mengenai penggunaan dana tersebut. Karena itu, pemerintah Iran belum memberikan rincian rekening yang diperlukan untuk proses transfer.
Bagian dari Pinjaman USD20 Miliar
Pinjaman USD1 miliar tersebut pertama kali dilaporkan pada Juni dan disebut sebagai pencairan pertama dari rencana pinjaman Rusia senilai USD20 miliar kepada Iran.Iran dan Rusia dalam beberapa waktu terakhir memperdalam hubungan ekonomi dan keuangan, termasuk melalui upaya meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan bilateral serta mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan yang dikendalikan negara-negara Barat.
Pada Juni, Iran mengumumkan rencana membentuk papan perdagangan rubel sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama perbankan dan moneter dengan Rusia.
Saat itu, seorang anggota parlemen Iran mengatakan Moskow diperkirakan memberikan pinjaman kepada Teheran senilai USD20 miliar dalam denominasi rubel dengan tingkat bunga tahunan 6 persen.
Sanksi AS
Perkembangan tersebut berlangsung ketika Iran masih menghadapi sanksi luas Amerika Serikat yang antara lain menargetkan ekspor minyak, sektor perbankan, dan akses negara tersebut ke sistem keuangan internasional.Washington dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran, termasuk melalui sanksi sekunder terhadap entitas asing yang dituduh memfasilitasi transaksi Iran.
Pada September, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap VTB Bank Rusia terkait hubungan perbankan koresponden dengan lembaga keuangan Iran yang telah dikenai sanksi.
AS juga menargetkan jaringan keuangan yang dituduh membantu Teheran memindahkan dana dan menghindari sanksi.
Baca juga: Menlu Iran Tegaskan Konflik dengan AS Harus Diselesaikan lewat Negosiasi