Solution Architect Alibaba Radityo Pradana. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah
Infrastruktur AI Jadi Kunci Indonesia Tangkap Peluang Ekonomi Digital
Eko Nordiansyah • 22 October 2026 14:25
Jakarta: Ketersediaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), mulai dari pusat data hingga sumber daya komputasi, menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pengembangan solusi AI di Indonesia. Infrastruktur lokal dibutuhkan agar perusahaan dapat menjalankan teknologi AI, termasuk AI agent, sesuai kebutuhan bisnis dan ketentuan pengelolaan data.
Solution Architect Alibaba Radityo Pradana mengatakan pengembangan AI agent membutuhkan tiga komponen utama, yakni model AI sebagai otak, harness sebagai perangkat yang memungkinkan AI menjalankan tugas, serta infrastruktur untuk mendukung operasionalnya. Ketiga komponen tersebut diperlukan agar AI tidak hanya mampu memberikan jawaban, tetapi juga menjalankan berbagai pekerjaan.
"Kita punya tiga data center di Indonesia, di sini kita juga bisa deploy AI LLM models yang ada menggunakan GPU resources yang kita miliki di region Indonesia," ucap Radityo dalam Peruri Digital Summit 2026, Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut Radityo, ketersediaan infrastruktur di dalam negeri menjadi relevan terutama bagi industri yang memiliki regulasi ketat terkait pengelolaan data. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan konsep sovereign AI, yakni pengembangan dan pemanfaatan AI dengan memperhatikan kendali serta ketentuan mengenai lokasi data.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
AI agent mulai dimanfaatkan berbagai sektor
Pemanfaatan AI agent mulai menjangkau berbagai sektor usaha, mulai dari layanan kesehatan, ritel, jasa keuangan, manufaktur, kendaraan listrik, hingga layanan publik. Teknologi ini memungkinkan AI menjalankan tugas tertentu, bukan hanya menghasilkan jawaban berdasarkan perintah pengguna.Selain model AI, infrastruktur komputasi juga perlu didukung sistem yang memungkinkan teknologi tersebut menjalankan tugas secara terintegrasi. Dalam pemaparannya, Radityo menjelaskan harness berfungsi memberikan kemampuan kepada model AI untuk mengakses layanan dan melakukan tindakan sesuai instruksi.
Di sisi lain, pemanfaatan AI juga membutuhkan pengamanan terhadap data dan akses sistem. Radityo mencontohkan penggunaan guardrails dan AI gateway untuk menyaring permintaan, membatasi akses terhadap informasi sensitif, serta memantau aktivitas berbagai AI agent.
Ketersediaan infrastruktur, pengelolaan data, dan pengamanan sistem menjadi bagian dari kesiapan penerapan AI dalam skala bisnis. Dengan dukungan tersebut, AI agent berpotensi membantu perusahaan mengotomatisasi pekerjaan dan meningkatkan efisiensi operasional. (Tiaranissa Juliansyah)