Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan. ANTARA/HO-Bakom RI
Pesantren jadi Tulang Punggung Peradaban Baru Indonesia
Achmad Zulfikar Fazli • 22 October 2026 12:37
Jakarta: Perhatian pemerintah terhadap santri dan pesantren tercermin dari penguatan kelembagaan pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Salah satunya dengan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
"Presiden Prabowo memiliki perhatian yang sangat besar kepada para santri dan pesantren. Baru di pemerintahan ini Kementerian Agama memiliki Direktorat Jenderal Pesantren," ujar Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan dalam keterangan tertulis, dilansir dari Antara, Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut dia, keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren menempatkan pesantren di level yang lebih strategis dalam pembangunan SDM Indonesia masa depan. Bahkan, sejumlah menteri pada Kabinet Merah Putih berasal dari kalangan santri.
Menurut Syahganda, hal tersebut mencerminkan perhatian terhadap dunia pesantren sekaligus membuka ruang bagi nilai-nilai dan pengalaman pendidikan pesantren untuk berkontribusi lebih luas dalam pembangunan nasional.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan keagamaan, Syahganda memandang pesantren berperan penting dalam menjaga persatuan, merawat toleransi, dan membentuk karakter masyarakat.
Kontribusi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pesantren dalam mendampingi kehidupan bangsa, sekaligus modal penting untuk menghadapi masa depan Indonesia.
"Terima kasih atas kontribusi nyata para santri dan pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa, merawat toleransi, serta membimbing kemajuan Indonesia. Dengan komitmen dan keberpihakan Bapak Presiden, kami percaya pesantren akan menjadi tulang punggung peradaban baru Indonesia masa depan," kata Syahganda.

Ilustrasi santri. Dok. Istimewa
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Hari Santri Nasional 2026 membawa pesan tentang tanggung jawab generasi santri dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Melalui tema 'Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas', peringatan tahun ini mengajak para santri untuk meneruskan semangat perjuangan para pendahulu dengan cara yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurut dia, perjuangan santri tidak lagi dimaknai sebagai upaya mempertahankan kemerdekaan sebagaimana dilakukan para pendahulu, tetapi melalui penguasaan pengetahuan, pemanfaatan teknologi, pengembangan inovasi, dan penjagaan akhlak mulia.
"Jika dahulu para santri menguatkan negeri dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan maka hari ini santri harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tentu saja akhlak mulia," ujar Nasaruddin.
Nasaruddin menekankan tantangan zaman memang berubah, tetapi semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam.