Darurat Karhutla Barito Selatan Diperpanjang hingga 2 November

Dokumentasi. Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan. ANTARA/Rendhik Andika.

Darurat Karhutla Barito Selatan Diperpanjang hingga 2 November

Lukman Diah Sari • 21 October 2026 18:21

Buntok: Pemerintah Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem hingga 2 November 2026.

“Pemkab Barsel telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan Ekstrem sejak 5 Agustus 2026 lalu, dan sampai saat ini telah memasuki masa perpanjangan tahap ketiga, yakni sampai 2 November 2026," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan, Agus In'Yulius, di Buntok, Selasa, 20 Oktober 2026, melansir Antara.

Penetapan status tanggap darurat ini menjadi landasan hukum bagi Pemkab Barsel untuk memperkuat penanganan kebakaran secara terpadu sesuai kewenangan dan regulasi yang berlaku. Langkah ini dinilai krusial guna mempercepat pencegahan agar titik api tidak semakin meluas, khususnya di kawasan gambut.

"Status tersebut memungkinkan pemerintah daerah mengoptimalkan koordinasi lintas instansi, pengerahan personel dan peralatan, serta dukungan operasional dengan tetap memperhatikan mekanisme penganggaran dan pertanggungjawaban," katanya.

Berdasarkan data BPBD, sejak awal Januari hingga 16 Oktober 2026, total area yang terdampak karhutla di Kabupaten Barito Selatan telah mencapai 1.301,99 hektare.

"Luas lahan yang terbakar tersebut tersebar di enam kecamatan, dengan kejadian terbanyak di Kecamatan Dusun Selatan, yakni 170 kejadian yang menghanguskan 830,88 hektare lahan," katanya.

Selain Dusun Selatan, berikut adalah rincian sebaran kejadian karhutla di lima kecamatan lainnya:
  • Kecamatan Dusun Hilir: 21 kejadian (165,71 hektare)
  • Kecamatan Karau Kuala: 42 kejadian (133,36 hektare)
  • Kecamatan Jenamas: 46 kejadian (82,54 hektare)
  • Kecamatan Dusun Utara: 15 kejadian (74 hektare)
  • Kecamatan Gunung Bintang Awai: 5 kejadian (15,50 hektare)
Agus merinci, intensitas kebakaran mulai melonjak signifikan sejak Juli 2026 dengan luasan 49,35 hektare. Angka tersebut melompat drastis menjadi 480,11 hektare pada Agustus, dan kembali naik menjadi 538,90 hektare sepanjang September. Memasuki 1–16 Oktober 2026, luasan lahan terbakar telah menyentuh 216,52 hektare.

Dokumentasi. Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan. ANTARA/Rendhik Andika.

Mayoritas lahan yang hangus merupakan kawasan dengan tutupan vegetasi gambut. Hal ini terkonfirmasi dari pantauan aplikasi Sipongi+ yang mencatat keberadaan 9.576 titik panas (hotspot) di Barito Selatan dalam kurun Januari hingga pertengahan Oktober 2026.

Menyikapi kondisi tersebut, Agus menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan Satgas. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, serta segera melapor jika mendapati indikasi titik api baru di lingkungannya.

(Lukman Diah Sari)