Ilustrasi. Foto: Freepik.
Memutus Mata Rantai Fenomena Psikosomatis GERD dan Gangguan Kecemasan
Ade Hapsari Lestarini • 24 April 2026 22:02
Bogor: Bagi sebagian orang, aroma makanan yang menggugah selera adalah sebuah undangan kebahagiaan. Namun bagi para pejuang GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan maag kronis, momen makan sering kali berubah menjadi horor yang memicu kecemasan hebat.
Dilemanya nyata: perut lapar dan butuh nutrisi, namun bayang-bayang nyeri ulu hati, sesak napas, hingga mulut yang pahit pasca-makan membuat mereka takut untuk menyentuh sepiring nasi.
Praktisi kesehatan sekaligus caregiver penyintas GERD, Dera Nur Tresna berbagi kisah fenomena "lingkaran setan" antara gangguan pencernaan dan kesehatan mental ini, pada 2019 menjadi masa terberat saat suaminya dihantam serangan panik akibat lambung. "Malam itu, pukul 2 pagi, rasanya seperti perpisahan terakhir," kenang Dera saat gelaran health talk bertajuk "Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety", dikutip Jumat, 24 April 2026.
Ia sempat terjebak dalam pola pikir konvensional dengan menyajikan makanan "anyep" atau hambar demi kesehatan lambung sang suami. Namun secara saintifik, makanan sehat yang tidak enak justru menjadi bumerang serta memicu stres tambahan, menurunkan nafsu makan, dan memperparah kondisi psikis pasien.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi Nutriged menjadi sereal multigrain sebagai comfort food. "Kami ingin menciptakan solusi di mana pengidap asam lambung tetap bisa makan enak dan nyaman tanpa rasa khawatir," tambah Dera.

Ilustrasi. Foto: Freepik
Penyebab GERD
Secara medis, dokter gizi Ratri Saumi menjelaskan masalah utama GERD adalah melonggarnya katup esofagus, bukan karena asam lambung yang harus dimusuhi. "Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia 'muncrat' ke tempat yang salah," jelas dia.
Ketika lambung teriritasi, ia mengirim sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis. Psikolog Klinis Mutia Qoriana, M.Psi., menjelaskan sinyal ini memicu hormon kortisol (stres), yang kemudian memerintahkan lambung memproduksi lebih banyak asam. Hasilnya? Muncul ketakutan akan kematian (Thanatophobia) yang dipicu oleh sensasi sesak di dada.
Untuk memutus rantai ini, Ratri memperkenalkan Protokol 5R (Remove, Replace, Reinoculate, Repair, Rebalance) sebagai strategi restorasi lambung yang komprehensif, bukan sekadar menekan asam dengan obat-obatan kimia secara terus-menerus.
Menjawab tantangan makanan sehat yang biasanya "tidak enak", Nutraceutical Researcher Ramdani Husnul Huluq pun meracik Nutriged dengan pendekatan yang unik. Ia melibatkan anaknya yang berusia 3 tahun sebagai panelis rasa perdana. "Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya," ujar Ramdani.
Nutriged perpaduan kearifan lokal dan sains modern yang berfungsi melindungi dan membangun kembali lapisan mukosa lambung. Inovasi ini menjadi jembatan bagi pasien yang ingin kembali mendapatkan gizi optimal tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa makanan yang hambar.
Melalui sinergi antara nutrisi yang tepat, manajemen stres dengan teknik pernapasan, dan empati dari pendamping, "lingkaran setan" GERD dan Anxiety bukan lagi sebuah kepastian. Kini, para pejuang lambung memiliki kesempatan untuk kembali menikmati hidup.