Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Di Tengah Dua Api
Abdul Kohar • 13 April 2026 07:54
PUISI karya penyair besar Pakistan, Faiz Ahmed Faiz, berjudul Subh-e-Azadi yang bisa diterjemahkan secara bebas sebagai Jangan Minta Lagi kiranya tepat menggambarkan harapan hampir seluruh manusia di kolong langit. Harapan itu tentang dunia yang tak lagi diliputi amarah.
Faiz Ahmed Faiz menulis:
'Ini bukan fajar yang kita rindukan,
bukan cahaya yang kita bayangkan datang
menghapus gelap dengan damai.
Di jalan-jalan masih tercium bau darah,
jerit yang tertahan di dada sejarah,
dan mata yang kehilangan harapan.
Kita berjalan jauh demi kemerdekaan,
tetapi apa arti bebas
jika hati masih terpenjara oleh kebencian?
Wahai kawan,
jangan lagi kita rayakan luka sebagai kemenangan,
jangan kita bangun dunia
di atas abu manusia.
Mari kita pilih jalan lain—
jalan yang menumbuhkan, bukan memusnahkan,
jalan yang merawat, bukan membakar.
Sebab perang hanya menyisakan sunyi,
sementara damai
memberi kita alasan untuk tetap menjadi manusia'.
Saya menukil penyair besar Pakistan itu awalnya berharap negeri itu bisa menandai fajar baru bagi lahirnya perdamaian yang permanen: Amerika Serikat dan Iran. Agresi yang dilancarkan AS bersama Israel ke Iran dalam 40 hari terakhir telah membuat dunia ikut memikul derita.
Dunia bahkan sempat menahan napas. Ancaman Donald Trump untuk menggempur Iran jika tetap menutup Selat Hormuz bukan sekadar retorika. Deadline pun ditetapkan, yaitu Rabu, 8 April, pukul 07.00 WIB. Teheran bergeming. Ketegangan memuncak. Banyak yang bersiap pada satu kesimpulan, bahwa perang besar tinggal menunggu waktu.
Namun, 90 menit menjelang tenggat, arah angin berubah. Trump justru mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Dunia terkejut dan bertanya siapa yang mampu menahan laju eskalasi itu?
Jawabnya mengarah ke satu nama negara, Pakistan. Presiden AS itu sendiri mengakui, ia mendapat bujukan dari Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Asim Munir. Nama terakhir bukan sosok sembarangan dalam kalkulasi Washington. Munir memiliki hubungan personal yang cukup hangat dengan Trump. Bahkan, pada satu kesempatan, Trump menyebut Munir sebagai salah satu pejabat militer favoritnya.
Relasi itu bukan lahir dari ruang hampa. Pada Mei 2025, saat konflik empat hari antara India dan Pakistan memanas, Amerika Serikat turun tangan. India memilih meredakan ketegangan. Sejak momen itu, jembatan komunikasi antara Trump dan Munir semakin kukuh. Ada respek yang terbangun. Dalam diplomasi, respek sering kali lebih berharga daripada sekadar kepentingan.
.jpg)
Ilustrasi AAJ TV
Baca Juga:
Trump Tantrum, Perintahkan Angkatan Laut AS Blokir Selat Hormuz |
Sharif pun memainkan peran tak kalah penting. Ia bahkan secara terbuka memuji Trump atas perannya meredakan konflik India-Pakistan. “Apa yang dilakukan Trump mungkin telah mencegah potensi 10 juta korban jiwa,” ujarnya. Pernyataan yang bukan hanya diplomatis, melainkan juga membangun psikologi kedekatan. Tak berhenti di situ, pada Juni 2025, Pakistan bahkan merekomendasikan Trump sebagai kandidat peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2026, sebuah gestur politik yang sarat makna.
Namun, kekuatan Pakistan bukan semata pada kedekatan mereka dengan Washington. Islamabad juga memiliki jalur komunikasi yang hangat dengan Teheran. Secara geografis, kedua negara berbagi perbatasan sepanjang sekitar 900 kilometer. Secara kultural, keduanya memiliki irisan sejarah dan tradisi yang tidak jauh berbeda.
Hubungan itu telah terjalin lama. Iran, bahkan sejak era Mohammad Reza Shah Pahlavi, menjadi salah satu negara pertama yang mengakui Pakistan pada 1947. Sebaliknya, Pakistan termasuk yang cepat mengakui perubahan rezim Iran pasca-Revolusi Iran 1979. Ada kesinambungan relasi yang tidak terputus oleh perubahan zaman.
Kedekatan itu terus dirawat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan menyebut Sharif dan Munir sebagai 'abang kesayangan'. Sebuah ungkapan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi mencerminkan tingkat kepercayaan yang tidak mudah dibangun dalam geopolitik kawasan yang sarat kecurigaan.
Di titik itulah Pakistan memainkan peran unik, yakni menjadi jembatan di antara dua kutub yang berseberangan. Ketika Washington dan Teheran terjebak dalam logika konfrontasi, Islamabad menawarkan kanal komunikasi. Bukan sebagai kekuatan besar, melainkan sebagai mediator yang dipercaya kedua pihak.
Namun, sayang, jalan menuju perdamaian permanen masih buntu. Semoga para pihak tidak menyerah. Semoga Iran, terutama AS dengan Donald Trump, mau mendengar seruan Faiz Ahmed Faiz bahwa 'perang hanya menyisakan sunyi, sementara damai memberi kita alasan untuk tetap menjadi manusia'.