Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026). ANTARA/HO-BPOM
BPOM Sebut Perluasan Penggunaan Vaksin Campak Perkuat Pengendalian KLB 2026
Achmad Zulfikar Fazli • 9 April 2026 18:25
Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan perluasan penggunaan vaksin campak untuk kelompok dewasa berisiko merupakan langkah strategis dalam upaya pengendalian kejadian luar biasa (KLB) campak pada 2026. Langkah tersebut merespons kedaruratan kesehatan masyarakat akibat meningkatnya kasus campak di sejumlah wilayah
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memastikan ketersediaan dan akses vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu dengan menerbitkan persetujuan penggunaan vaksin campak untuk anak dan dewasa.
"Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga minggu ke-11 tahun 2026 tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi. Meski menunjukkan penurunan signifikan hingga 93 persen dari puncak 2.220 kasus menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret 2026, pemerintah tetap menekankan pentingnya surveilans ketat karena risiko penularan masih ada, termasuk pada kelompok dewasa dengan cakupan imunisasi yang belum optimal," kata Taruna, di Jakarta, dilansir dari Antara, Kamis, 9 April 2026.
Taruna menjelaskan keputusan perluasan indikasi ini diambil melalui proses evaluasi ilmiah yang komprehensif dan berbasis data. BPOM telah melakukan konsultasi dengan World Health Organization (WHO), melibatkan Komite Nasional Penilai Obat, serta melakukan analisis terhadap data uji klinik dan bukti penggunaan di dunia nyata.
"Sebagai WHO-Listed Authority (WLA) di bidang vaksin, BPOM melaksanakan proses evaluasi berbasis data dan kolaborasi internasional dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar dia.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, pihaknya secara resmi menetapkan persetujuan penggunaan vaksin campak produksi Bio Farma untuk kelompok dewasa berisiko terhitung sejak 7 April 2026. Kehadiran vaksin ini melengkapi vaksin lain yang sebelumnya telah tersedia untuk kelompok usia tersebut.
“Persetujuan ini merupakan hasil kajian ketat berbasis data ilmiah guna memastikan bahwa vaksin yang digunakan masyarakat memenuhi standar keamanan, kualitas, dan efikasi,” tegas Taruna.

Ilustrasi vaksin. Dok. Istimewa
Baca Juga:
Ratusan Ribu Nakes Dapat Prioritas Vaksin Campak |
Selain faktor epidemiologi, ketersediaan vaksin menjadi pertimbangan penting. Selama ini, vaksin produksi dalam negeri oleh Bio Farma telah tersedia luas. Namun, penggunaannya diprioritaskan untuk kelompok anak.
Menurut dia, perluasan indikasi ini menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan vaksin dalam negeri dalam mendukung kebutuhan vaksinasi dewasa.
Selain vaksin produksi Bio Farma, vaksin campak kombinasi measles-mumps-rubella (MMR) dari produsen lain, seperti GlaxoSmithKline (GSK) dan Merck Sharp & Dohme (MSD), telah tersedia untuk kelompok usia dewasa.
Taruna menekankan vaksinasi campak pada kelompok dewasa akan difokuskan pada populasi berisiko tinggi sebagai prioritas utama, yakni tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, serta individu yang memiliki kontak erat dengan pasien dari kelompok imunokompromi yang rentan terhadap infeksi.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, menyampaikan ketersediaan vaksin untuk mendukung program ini telah disiapkan.
“Saat ini, stok vaksin campak nasional mencapai sekitar 9,8 juta dosis dengan ketahanan stok sekitar 5,5 bulan sehingga pelaksanaan vaksinasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai prioritas,” kata Rizka.