Stok Minyak Goreng Dipastikan Aman saat Ramadan

Ilustrasi minyak goreng Minyakita. Foto: dok Palmco.

Stok Minyak Goreng Dipastikan Aman saat Ramadan

Ade Hapsari Lestarini • 22 February 2026 19:16

Jakarta: Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo memastikan kesiapan pasokan minyak goreng nasional saat Ramadan.
 
Perusahaan menyatakan telah menyiapkan langkah dari hulu hingga hilir untuk menjaga stabilisasi harga di tengah tren peningkatan konsumsi masyarakat.
 
Direktur Utama PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan lonjakan permintaan minyak goreng menjelang Ramadan dan Idulfitri bukanlah pola baru. Karena itu, manajemen mengklaim telah memetakan kebutuhan pasar sejak awal tahun.
 
"Kami memahami tren permintaan selalu meningkat jauh sebelum Ramadan. Karena itu, skenario peningkatan produksi sudah dirancang dan dieksekusi sejak awal tahun. Stok bahan baku aman untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Jatmiko, dalam keterangan tertulis, Minggu, 22 Februari 2026.
 
Data perusahaan menunjukkan, realisasi produksi Crude Palm Oil (CPO) pada
Januari 2026 menembus lebih dari 200 ribu ton, melampaui target bulanan yang telah ditetapkan.
 
Untuk periode Maret hingga April, puncak konsumsi rumah tangga, PalmCo menargetkan kenaikan produksi lebih dari 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton CPO pada April.
 
Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi potensi gejolak harga di pasar. Sejumlah pengamat menilai, stabilitas pasokan menjadi faktor kunci meredam kenaikan harga minyak goreng yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan.

 

Fokus hilir pada Minyakita

 
Di sektor hilir, strategi serupa dijalankan anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Lestari (INL). Perusahaan ini meningkatkan target produksi minyak goreng ritel pada Maret menjadi sekitar 4,2 juta liter dan dinaikkan lagi sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.
 
Pelaksana Tugas Direktur INL Darwin Hasibuan menyebutkan, seluruh kapasitas produksi saat ini difokuskan pada merek minyak goreng program pemerintah, yakni Minyakita.
 
"Untuk sementara, produksi beberapa merek komersial internal kami ditunda. Seluruh jalur distribusi dan kapasitas produksi kami dedikasikan penuh untuk Minyakita agar pasokan di pasar melimpah," kata dia.
 
Kebijakan ini diambil untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen.
Minyakita merupakan merek minyak goreng sederhana yang didistribusikan secara uas dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.
 
Di tengah upaya peningkatan volume produksi, PalmCo menyatakan tetap menjaga standar keberlanjutan. Dari total 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, sebanyak 67 pabrik atau 94,36 persen telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
 
Sementara itu, 68 pabrik atau 95,77 persen telah tersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Selain sertifikasi, perusahaan memperkuat sistem keterlacakan (traceability) bahan baku. Beberapa unit seperti PKS Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja dijadikan percontohan integrasi data kebun dan pabrik, sehingga asal usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri hingga ke sumbernya.
 
Menurut Jatmiko, transparansi rantai pasok menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik.
 
"Masyarakat berhak mendapatkan jaminan bukan hanya soal harga dan stok, tetapi juga kepastian minyak goreng diproduksi dari sumber yang lestari dan terlacak," ujar dia.
 
Seiring mendekatnya Ramadhan, pemerintah dan pelaku industri dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pasokan dan stabilitas harga. Upaya PalmCo meningkatkan produksi dan memfokuskan distribusi pada minyak goreng bersubsidi menjadi salah satu langkah yang diharapkan mampu meredam potensi gejolak di pasar domestik.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)