Gunung Anak Krakatau Meletus 18 Kali Sejak 2 Juli

Gunung Anak Krakatau yang masih mengeluarkan asap dari puncak berdasarkan pengamatan petugas PVMBG Badan Geologi di Lampung Selatan, Lampung, Rabu petang, 8 Juli 2026. ANTARA/HO-Badan Geologi

Gunung Anak Krakatau Meletus 18 Kali Sejak 2 Juli

Silvana Febiari • 12 July 2026 18:41

Serang: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat sedikitnya 18 kali letusan pada Gunung Api Anak Krakatau di Selat Sunda. Catatan itu terhitung sejak 2 Juli 2026.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau PVMBG, Rio Bonik Situmorang, mengatakan, status gunung api tersebut hingga saat ini masih Level III atau Siaga, meski dalam beberapa hari terakhir aktivitasnya cukup tinggi.

"Untuk hari ini belum ada letusan. Namun, beberapa hari sebelumnya mulai dari tanggal 2 Juli, tercatat ada sekitar 18 kali letusan sampai kemarin," kata Rio, dilansir dari Antara, Minggu, 12 Juni 2026. 


Rio menjelaskan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih sangat fluktuatif. Tingkat kegempaan terkadang meningkat tinggi, namun di waktu lain dapat menurun.

"Adapun letusan terakhir yang berhasil terekam instrumen terjadi pada malam hari sebelumnya sekitar pukul 23.34 WIB," paparnya.

Saat ini kondisi visual Gunung Anak Krakatau tidak dapat teramati karena tertutup kabut dari Pos Pengamatan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Guna mengantisipasi perkembangan aktivitas magma, PVMBG terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh melalui Pos Pengamatan yang didukung oleh berbagai peralatan pemantauan vulkanik di lapangan.

"Hasil evaluasi berkala dari tim ahli vulkanologi ini menjadi acuan utama dalam menentukan langkah mitigasi," ujarnya.


Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau PVMBG, Rio Bonik Situmorang, melakukan pemantauan di Serang, Banten, Minggu. ANTARA/Desi Purnama Sari


Seiring dengan status Siaga tersebut, PVMBG menegaskan rekomendasi zona aman belum berubah. Masyarakat, wisatawan, maupun nelayan dilarang keras mendekat atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diimbau untuk tetap tenang, mematuhi semua arahan dari pihak berwenang, serta tidak terpancing oleh informasi atau isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya terkait aktivitas gunung api tersebut.

(Silvana Febiari)