Airlangga: Diversifikasi Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Dunia

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia. Foto: dok Kemenko Perekonomian.

Airlangga: Diversifikasi Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Dunia

Husen Miftahudin • 7 June 2026 16:07

Brussel: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya membangun kembali arsitektur ekonomi internasional yang terbuka, inklusif, dan tangguh di tengah meningkatnya kompleksitas dinamika geopolitik global.

Menurut Airlangga, berbagai tantangan global yang memengaruhi rantai pasok, perdagangan, investasi, hingga pertumbuhan ekonomi dunia memerlukan pendekatan yang mengedepankan kerja sama dan diversifikasi, bukan fragmentasi ekonomi.

"Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Saya meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships," kata Airlangga dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 7 Juni 2026.

Brussels Economic Security Forum (BESF) merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh European Policy Centre (EPC). Forum tersebut menjadi salah satu wadah utama di Brussel untuk membahas isu keamanan ekonomi, ketahanan rantai pasok, perdagangan, investasi, teknologi, dan dinamika ekonomi global. Acara itu dihadiri para pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga media internasional.
 

Baca juga: Airlangga Pede Implementasi IEU-CEPA Bisa Dimulai Awal 2027
 

Ketahanan ekonomi di tengah gejolak global


Dalam forum tersebut, Airlangga memaparkan strategi Indonesia dalam memperkuat keamanan ekonomi (economic security) dan ketahanan ekonomi nasional. Ia juga menyampaikan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa, termasuk proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Airlangga menilai berbagai konflik global, termasuk yang terjadi di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, menunjukkan bagaimana gangguan geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi rantai pasok, investasi, serta pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut dia, kondisi tersebut mendorong banyak negara menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat keamanan ekonomi, mulai dari kebijakan industri, penyaringan investasi (investment screening), hingga pengendalian ekspor (export controls).

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi dengan mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I 2026. Selain itu, inflasi tetap terkendali, cadangan devisa terjaga kuat, serta surplus neraca perdagangan telah berlangsung lebih dari 70 bulan berturut-turut.
 

Hilirisasi dan ekonomi digital jadi motor transformasi


Airlangga menjelaskan Indonesia saat ini terus mempercepat transformasi ekonomi melalui program hilirisasi industri, pengembangan manufaktur, transformasi digital, dan ekonomi hijau.

Pemerintah juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.

Indonesia, lanjutnya, telah berkembang menjadi salah satu pusat industri kendaraan listrik dunia dengan masuknya investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara pada sektor produksi baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik.

Perkembangan tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan industri nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap diversifikasi rantai pasok energi bersih global yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Di sektor digital, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui USD130 miliar berdasarkan gross merchandise value (GMV) pada 2025. Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, pemerintah terus memperkuat ketahanan energi dan mendukung agenda dekarbonisasi melalui pengembangan energi terbarukan serta implementasi program biodiesel B50.

Program tersebut diperkirakan mampu mengurangi impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun, sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional.


(Ilustrasi ekonomi global. Foto: Freepik)
 

Perluas kerja sama strategis


Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama ekonomi melalui berbagai perjanjian strategis, termasuk IEU-CEPA, Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-Canada CEPA), serta Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).

Selain itu, Indonesia terus melanjutkan proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS, serta calon anggota OECD, Indonesia terus memperkuat perannya sebagai jembatan antara negara maju dan negara berkembang.

Peran tersebut dinilai penting untuk mendorong dialog, memperkuat kerja sama internasional, dan membangun solusi bersama yang inklusif dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.

Rangkaian BESF 2026 ditutup oleh Maroš Šef?ovi? yang menekankan pentingnya penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan ekonomi dan geopolitik global.

"Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi yang lebih baik, yang mampu memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua," tutup Airlangga.

(Husen Miftahudin)