Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD89,1 Juta di April 2026

Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD89,1 Juta di April 2026

Husen Miftahudin • 2 June 2026 12:41

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada periode April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD89,1 juta. Angka ini menyusut tajam jika dibandingkan surplus neraca perdagangan pada Maret 2026 yang tercatat sebesar USD3,32 miliar.

"Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.

Dijelaskan Pudji lebih lanjut, surplus ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas, yaitu sebesar USD3,53 miliar dengan komoditas utama penyumbang surplus lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).

"Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit USD3,4 miliar dengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah, hasil minyak, dan gas alam," papar Pudji.
 

Baca juga: Kenaikan Harga Cabai Merah hingga Minyak Goreng Bikin Inflasi Mei Naik Jadi 0,28%


(Ilustrasi, aktivitas perdagangan internasional. Foto: Medcom.id)
 

Cetak surplus USD5,64 miliar Januari-April 2025


Pudji menambahkan, surplus neraca perdagangan secara kumulatif pada periode Januari hingga April 2026 sebesar USD5,64 miliar. Surplus neraca perdagangan Indonesia ini masih berlanjut hingga April 2026 di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global.

Menurut dia, surplus tersebut masih didorong oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas yang terus berlanjut, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit.

"Hingga April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD14,16 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD8,52 miliar," ungkap Pudji.

Pudji melanjutkan nilai ekspor kumulatif periode Januari-April 2026 mencapai USD92,15 miliar atau naik 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan dengan pertumbuhan nilai ekspor 9,78 persen menjadi USD75,57 miliar.

Selanjutnya, nilai impor Indonesia secara kumulatif hingga April 2026 sebesar USD86,51 miliar, atau naik 13,40 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor USD73,58 miliar, naik 12,70 persen. Sementara itu, impor migas tercatat USD12,93 miliar atau naik 17,58 persen.

Sepanjang periode Januari-April 2026, Tiongkok menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai USD30,79 miliar (41,84 persen), diikuti Jepang dengan nilai USD4,15 miliar (5,64 persen), dan Australia USD4,15 miliar (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen, atau lebih dari separuh total impor nonmigas Indonesia.

Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari-April 2026 sebagian besar masih ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewan/nabati (US$11,71 miliar), bahan bakar mineral (USD8,34 miliar), besi dan baja (USD5,71 miliar), nikel dan barang daripadanya (USD4,26 miliar), serta alas kaki (USD2,14 miliar).

(Husen Miftahudin)