Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. MI/Ebet
Podium MI: Pesan dari Persija dan Persib
Abdul Kohar • 15 September 2026 06:51
ADA masa ketika pertandingan Persija melawan Persib bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia seperti pengumuman keadaan siaga. Polisi bersiap, aparat berjaga, jalan-jalan diperhatikan, dan orang tua berpesan kepada anak mereka, 'kalau tidak perlu-perlu amat, jangan keluyuran'.
Sepak bola mestinya hiburan, tetapi kita malah menontonnya sambil berdebar. Bukan semata menunggu gol, melainkan juga khawatir jangan-jangan setelah peluit panjang berbunyi, pertandingan justru berpindah dari lapangan ke jalan raya.
Syukurlah, zaman rupanya bisa berubah. Pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu, 12 September 2026, memberikan kabar menggembirakan. Bukan cuma karena Persija menang 2-1 melalui drama injury time. Yang lebih patut dirayakan ialah sepak bola Indonesia mulai memperlihatkan wajah yang lebih dewasa.
Lebih dari 58 ribu (versi lain 62 ribu) suporter menyaksikan pertandingan itu. Stadion bergemuruh, tensi tinggi, gengsi dipertaruhkan. Namun, pertandingan berlangsung lancar. Tidak terdengar parade nyanyian rasial atau olok-olok keterlaluan yang pada masa lalu kerap mengiringi pertemuan dua klub besar tersebut.
Persaingan tetap menyala, tetapi kewarasan tidak ikut terbakar. Itulah kemenangan yang nilainya mungkin lebih mahal daripada tiga poin.
Kehadiran Shin Tae-yong di Persija tentu menjadi magnet tersendiri. Namun, pelatih, pemain bintang, dan gol pada menit terakhir hanyalah sebagian dari pesta sepak bola. Pesta sesungguhnya terjadi ketika puluhan ribu orang datang ke stadion, mendukung kesebelasan secara habis-habisan, kemudian pulang dengan selamat.
Sederhana sekali kedengarannya. Namun, dalam sejarah sepak bola kita, kesederhanaan semacam itu pernah menjadi barang mewah.
Yang lebih melegakan, kedewasaan tersebut tidak berhenti di stadion. Media sosial yang biasanya gampang berubah menjadi gelanggang tinju virtual justru dipenuhi ucapan selamat. Sejumlah bobotoh Persib memberikan selamat kepada Persija.
Kalimat yang beredar pun terasa menyejukkan, yakni 'persaingan hanya 90 menit, persaudaraan sebangsa selamanya'. Nah, begitulah semestinya sepak bola.
Kita boleh berbeda warna kostum. Boleh menyanyikan lagu klub masing-masing sampai suara serak. Boleh berdebat apakah wasit keliru, bek terlalu lamban, atau striker mestinya menembak ketimbang mengoper. Namun, setelah 90 menit selesai, hidup harus kembali menjadi hidup. Lawan di lapangan tidak berubah menjadi musuh dalam kehidupan.
Perubahan itu bahkan mendapat perhatian Sekretaris Jenderal AFC Datuk Seri Windsor John. Dalam Indonesia Sports Summit 2026, ia mengingat masa ketika pertandingan Persija melawan Persib membuat AFC ikut berjaga-jaga. “Dulu kalau ada pertandingan Persib Bandung melawan Persija, kami di AFC sampai harus stand by,” katanya.
Kini, situasinya berbeda. Windsor menyebut pertandingan tersebut sangat bagus dan luar biasa. Ia bahkan menilainya sebagai peningkatan besar dalam kepemimpinan dan administrasi sepak bola Indonesia.
Pujian itu tentu menyenangkan. Akan tetapi, jangan buru-buru mabuk pujian. Sepak bola Indonesia punya pengalaman panjang: baru dipuji sedikit, kita terkadang sudah merasa pantas menjadi Brasil atau Spanyol.
Yang perlu dilakukan justru menjaga momentum. Kedewasaan suporter tidak lahir dari ruang kosong. Ia harus dirawat melalui pengelolaan kompetisi yang profesional, keamanan yang manusiawi, klub yang bertanggung jawab, federasi yang transparan, serta pendidikan suporter yang terus-menerus.
PSSI dan operator liga juga tidak boleh menganggap satu pertandingan aman sebagai tanda seluruh persoalan telah selesai. Justru keberhasilan laga Persija-Persib mesti dijadikan standar baru. Kalau pertandingan dengan rivalitas setinggi itu dapat berlangsung aman, pertandingan lain mestinya lebih bisa.

Dok BRI Super League
Sepak bola Indonesia terlalu lama dibebani cerita muram. Kita pernah mendengar pertandingan dihentikan, suporter bentrok, bus dilempari, dan bahkan nyawa melayang hanya karena perbedaan warna seragam. Padahal, sepak bola ditemukan untuk membuat manusia bergembira.
Karena itu, ketika puluhan ribu orang memenuhi GBK, menyaksikan drama sampai menit terakhir, kemudian meninggalkan stadion tanpa keributan, kita sesungguhnya sedang menyaksikan sesuatu yang lebih penting daripada skor 2-1.
Kita sedang melihat sepak bola Indonesia perlahan menjadi dewasa.
Masih banyak yang mesti dibenahi, tentu saja. Akan tetapi, setidaknya sekarang kita bisa datang ke stadion membawa syal dan harapan, bukan kecemasan.
Sepak bola akhirnya kembali menjadi sepak bola, yakni pertandingan yang membuat jantung berdebar karena menunggu gol, bukan karena takut akan datangnya kerusuhan.
Percayalah, untuk sepak bola Indonesia, kemajuan semacam itu layak dirayakan seperti sebuah gol pada menit ke-90+5.