Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA, Abu Dhabi Harap Keputusan Sementara

Ilustrasi Anadolu

Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA, Abu Dhabi Harap Keputusan Sementara

Fajar Nugraha • 11 September 2026 15:28

Algiers: Aljazair memutus hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan mulai menutup wilayah udaranya bagi pesawat sipil serta militer yang terdaftar di negara tersebut, sementara Abu Dhabi berharap keputusan itu hanya bersifat sementara.

Dalam sebuah pernyataan, Kamis, 10 September 2026, Kementerian Luar Negeri UEA mengatakan bahwa pihaknya tetap menekankan pentingnya hubungan dengan seluruh negara dan berharap keputusan Aljazair tidak mengganggu hubungan antara kedua negara.

“UEA menyatakan harapan bahwa keputusan ini akan bersifat sementara, dengan cara yang menjaga hubungan persaudaraan antara kedua bangsa bersaudara,” kata kementerian tersebut, dikutip dari TRT World.

Abu Dhabi juga menyatakan apresiasinya terhadap rakyat Aljazair dan menyoroti hubungan antarkedua negara, terutama melalui komunitas Aljazair yang tinggal di UEA serta para pengunjung dari Aljazair.

“UEA tetap berkomitmen untuk mempertahankan dan memperkuat hubungan serta kepentingan bersama tersebut,” tambah pihak kementerian.

Aljazair Tutup Wilayah Udara

Kementerian Pertahanan Aljazair menyatakan seluruh pesawat sipil dan militer yang terdaftar di UEA akan dilarang terbang menuju atau meninggalkan negara itu mulai 11 September.

Namun, penerbangan sipil komersial UEA yang beroperasi menuju dan dari Bandara Internasional Houari Boumediene di Aljir dikecualikan dari kebijakan tersebut. Penerbangan itu masih diperbolehkan hingga akhir 2026, ketika kontrak yang berlaku berakhir.

Langkah tersebut diumumkan setelah Aljazair menyatakan memutus hubungan diplomatik dengan UEA karena telah menghabiskan “segala cara” untuk mempertahankan hubungan bilateral.

Kementerian Luar Negeri Aljazair, dalam pernyataan yang dikutip Algeria Press Service (APS), mengatakan Aljazair telah menunjukkan “tingkat pengendalian diri yang tinggi” dan “rasa tanggung jawab yang kuat” dalam menghadapi tindakan UEA yang semakin “provokatif atau bermusuhan”.

Duta besar UEA untuk Aljazair telah diberi tahu secara resmi mengenai keputusan tersebut dan diberikan waktu 48 jam untuk mematuhinya.

“Aljazair tidak menyia-nyiakan upaya, dalam semangat menghormati sepenuhnya prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antarnegara, untuk menarik perhatian pihak UEA dan memperingatkannya mengenai konsekuensi serius yang dapat timbul dari tindakannya yang disesalkan dan tidak dapat dibenarkan,” ujar kementerian tersebut.

Menurut Aljazair, berbagai peringatan itu tidak menghentikan tindakan UEA hingga mencapai titik yang dinilai tidak lagi dapat diterima dalam hubungan antara dua negara berdaulat.

“Setelah menghabiskan seluruh jalur untuk mempertahankan hubungan bilateral, pemerintah Aljazair hari ini memutuskan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab,” lanjut kementerian tersebut.

UEA tidak segera memberikan komentar mengenai keputusan Aljazair itu.

Hubungan Lama Menegang

Pada Oktober tahun lalu, Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune mengatakan hubungan negaranya dengan seluruh negara Teluk berlangsung hangat kecuali satu negara, dalam rujukan terselubung kepada UEA.

Saat itu, Tebboune menyebut hubungan Aljazair dengan Arab Saudi, Kuwait, Oman, dan Qatar sebagai hubungan yang “persaudaraan”.

Ia mengatakan pemutusan hubungan diplomatik “sudah terjadi sejak lama” seandainya Aljazair tidak berupaya menghindari “pendalaman perpecahan” di dunia Arab.

(Fajar Nugraha)