Gunung Semeru dan Krakatau Siaga, Warga Malang Raya Diimbau Tak Panik

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: ANTARA/Ahmad Fikri.

Gunung Semeru dan Krakatau Siaga, Warga Malang Raya Diimbau Tak Panik

Daviq Umar Al Faruq • 8 September 2026 19:07

Malang: BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur meminta warga Malang Raya tidak panik merespons erupsi Gunung Anak Krakatau dan Gunung Semeru. Imbauan ini disampaikan mengingat sebaran abu vulkanik Krakatau dipastikan belum mengarah ke wilayah Malang Raya.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Linda Fitrotul, menegaskan pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih tertahan di kawasan barat Indonesia. Faktor arah dan kecepatan angin di berbagai lapisan ketinggian menjadi penentu utama jalur sebaran material tersebut.

"Arah sebaran abu dipengaruhi oleh kondisi angin pada berbagai ketinggian. Dengan kondisi tersebut, belum ada indikasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengarah dan berdampak langsung terhadap wilayah Malang Raya," kata Linda, Selasa, 8 September 2026.
 


Sementara itu, BMKG juga menyoroti aktivitas Gunung Semeru yang berada pada status Level III atau Siaga usai erupsi pada Minggu, 6 September 2026. Hasil pantauan menunjukkan pergerakan angin membawa material erupsi ke arah barat daya.

Pihaknya mencatat puluhan kegempaan masih terus terjadi di gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Data Pengamatan PVMBG mengonfirmasi dominasi gempa letusan serta beberapa kali getaran guguran dan hembusan.

"Dari laporan data pengamatan yang kami dapat dari PVMBG pada hari ini mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat ada 30 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10-23 mm dan lama gempa 75-151 detik. Lalu, 4 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-3 mm dan lama gempa 39-47 detik, 6 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2-7 mm, dan lama gempa 34-69 detik, serta 1 kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 10 mm, S-P 30 detik dan lama gempa 71 detik," beber Linda.

Menyikapi tingginya aktivitas vulkanik, otoritas melarang keras adanya aktivitas warga di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer. Ancaman perluasan awan panas guguran dan aliran lahar membuat area sempadan sungai sejauh 500 meter juga wajib dikosongkan.


Ilustrasi abu vulkanik. Foto: Dok. Antara.

Sterilisasi wilayah turut diberlakukan pada radius 5 kilometer dari kawah puncak guna mengantisipasi bahaya lontaran batu pijar. Warga di sekitar aliran Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat pun diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan.

"Untuk pengaruh erupsi Gunung Semeru, masyarakat di sekitar kawasan terdampak mengikuti petunjuk atau arahan dari PVMBG. Sementara itu, kami terus memantau kondisi cuaca dan angin yang dapat mempengaruhi potensi sebaran abu vulkanik," ungkap Linda.

Masyarakat diimbau hanya memantau pembaruan data dari kanal resmi pemerintah agar terhindar dari disinformasi. BMKG bersama PVMBG memastikan pemantauan dinamika cuaca dan aktivitas vulkanik terus dilakukan selama 24 jam.

"Masyarakat Malang Raya tidak perlu panik, tetap mengikuti informasi resmi perkembangan aktivitas Gunung Semeru dan Gunung Anak Krakatau dari PVMBG. Terkait informasi arah angin sebaran abu vulkanik, bisa melihat informasi dari kanal resmi BMKG," ujar Linda.                                                         

(Fachri Audhia Hafiez)