Menteri Pertahanan Inggris John Healey. (Anadolu Agency)
Trump Klaim NATO Tak Pernah Ada di Garis Depan Afghanistan, Inggris Geram
Willy Haryono • 24 January 2026 15:42
London: Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai peran NATO dalam perang di Afghanistan memicu kecaman keras di Inggris. Trump sebelumnya mengatakan pasukan NATO “sedikit menjauh dari garis depan” selama konflik tersebut.
Pemerintah Inggris pada Jumat kemarin menegaskan bahwa pernyataan Trump tidak benar. Juru bicara pemerintah menyebut ratusan personel militer Inggris tewas di Afghanistan dan banyak lainnya mengalami luka serius serta cedera permanen.
“Presiden Trump keliru. Ratusan personel Inggris gugur di Afghanistan dan banyak lainnya mengalami cedera yang mengubah hidup mereka saat bertugas bersama AS dan sekutu NATO,” ucapnya dalam pernyataan resmi, dilansir dari Anadolu Agency, Sabtu, 24 Januari 2026.
Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengingatkan bahwa Pasal 5 NATO hanya pernah diaktifkan satu kali, yakni setelah serangan 11 September 2001 di AS, dan Inggris serta sekutunya merespons permintaan tersebut.
“Lebih dari 450 personel Inggris kehilangan nyawa di Afghanistan. Mereka adalah pahlawan yang mengorbankan hidupnya demi negara,” tulis Healey di platform X.
Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Al Carns juga mengecam pernyataan Trump sebagai “sangat tidak masuk akal” dan menyebutnya sebagai hal yang “memalukan”.
“Kami semua berdiri bersama, bahu-membahu, dan merespons konflik itu,” ujar Carns dalam video yang diunggah di X.
Sementara itu, pemimpin oposisi dari Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menyebut pernyataan Trump sebagai “omong kosong belaka”. Pemimpin Partai Demokrat Liberal Ed Davey bahkan meminta Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menuntut permintaan maaf dari Trump, seperti dikutip BBC.
Inggris merupakan salah satu sekutu utama AS dalam perang Afghanistan sejak 2001, setelah NATO mengaktifkan klausul pertahanan kolektifnya menyusul serangan teroris 11 September. Pemerintah Inggris mencatat sebanyak 457 personel militernya tewas selama konflik tersebut.
Baca juga: Trump Tegaskan NATO Tidak Terlalu Kuat Tanpa Kehadiran AS