“Mathla’ul Anwar sejak awal berdirinya pada 1916 di Menes, Banten, telah menegaskan diri sebagai cahaya bagi umat, tidak hanya dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai, akhlak, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil,” ujar Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Banten sekaligus kader Mathla’ul Anwar, Jazuli Juwaini dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.
Menurut Jazuli, Mathla’ul Anwar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan peradaban. Organisasi ini berperan dalam membangun sistem pendidikan yang terstruktur, moderat, dan berorientasi pada pencerahan umat.
Dalam perjalanannya, Mathla’ul Anwar berpegang pada sembilan prinsip dasar. Prinsip-prinsip tersebut antara lain berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah, menjaga persatuan akidah, menjunjung toleransi dalam khilafiah, serta berorientasi pada kemaslahatan umat.
Selain itu, organisasi ini juga didorong untuk mampu berperan dalam kehidupan berbangsa melalui pendekatan siasah yang bijak. Mathla’ul Anwar juga membangun kolaborasi dengan pemerintah demi kemajuan bersama.
Jazuli menilai, di tengah dinamika zaman yang terus berubah, Mathla’ul Anwar telah menunjukkan kontribusi nyata melalui jaringan lembaga pendidikan yang tersebar luas, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Namun demikian, ia menekankan usia panjang organisasi juga menuntut adanya transformasi dan konsolidasi internal. Langkah ini diperlukan agar Mathla’ul Anwar tetap relevan menghadapi tantangan modern, seperti perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
“Mathla’ul Anwar harus menjadi entitas yang diperhitungkan, bukan sekadar dihitung. Eksistensi saja tidak cukup, tetapi harus diikuti kualitas, pengaruh, dan kontribusi nyata,” katanya.

Anggota DPR RI Fraksi PKS Jazuli Juwaini melakukan silaturahim dengan Ketua Umum Mathlaul Anwar KH Embay Mulyasyarif. Istimewa
Ia menambahkan, momentum Harlah ke-113 ini perlu dimanfaatkan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta merancang program yang adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Menurut Jazuli, tantangan terbesar justru kerap berasal dari internal organisasi. Penyatuan potensi dan penguatan semangat kolektif menjadi kunci dalam mendorong peran strategis Mathla’ul Anwar ke depan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya inovasi dalam dakwah dan pendidikan, termasuk pemanfaatan ruang digital untuk menjangkau generasi muda seperti milenial, Gen Z, dan Gen Alpha.
“Dakwah harus hadir di ruang digital, sementara pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan masa depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Harlah bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperbarui komitmen untuk menjaga dan memperluas peran organisasi dalam membangun umat.
Dengan jati diri yang kokoh dan peran yang terus berkembang, Mathla’ul Anwar diyakini memiliki peluang besar untuk tetap menjadi pelopor pendidikan dan dakwah sosial, baik di tingkat nasional maupun global.