Maduro Tersingkir, Masa Depan Minyak Venezuela Jadi Sorotan

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Maduro Tersingkir, Masa Depan Minyak Venezuela Jadi Sorotan

Ade Hapsari Lestarini • 6 January 2026 06:34

Caracas: Serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Caracas dan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro memicu ketidakpastian besar di Amerika Selatan. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan "mengatur" Venezuela, sebuah langkah yang dinilai sangat bergantung pada bagaimana AS menangani komoditas utama negara tersebut, yaitu minyak.

"Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di dunia, untuk masuk ke Venezuela, mengucurkan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara," kata Trump, melansir DW, Selasa, 6 Januari 206.
 


Seberapa penting minyak bagi Venezuela?


Perekonomian Venezuela sangat bergantung pada sektor minyak. Selama bertahun-tahun, Pemerintahan Maduro hampir sepenuhnya mengandalkan hidrokarbon sebagai sumber utama pendapatan negara.

Minyak mentah dan produk turunannya, termasuk petrokimia, menyumbang sekitar 90 persen pendapatan ekspor Venezuela. Ketergantungan ini membantu menopang pemerintahan yang terisolasi dan berada di bawah sanksi internasional, meskipun menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan.

Venezuela tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dengan lebih dari 300 miliar barel melampaui Arab Saudi. Namun, kontribusinya terhadap produksi minyak global kurang dari satu persen, jauh merosot lebih dari 10 persen pada era 1960-an. Produksi minyak mentah telah anjlok lebih dari 70 persen sejak akhir 1990-an, menempatkan Venezuela di peringkat ke-21 produsen minyak dunia.

Kemerosotan tersebut berakar sejak pemerintahan Presiden Hugo Chavez. Revolusi sosialis yang dijalankan pada 1990-an dan 2000-an memicu korupsi di perusahaan minyak negara PDVSA, serta mendorong hengkangnya investasi asing akibat intervensi pemerintah di sektor energi.

Masalah tersebut diperparah oleh kecelakaan di jaringan pipa dan kilang minyak, serta sanksi AS yang diperketat sejak 2017, yang semakin menekan kapasitas produksi. Meski demikian, PDVSA berhasil menstabilkan produksi di kisaran satu juta barel per hari, sebagian berkat lisensi AS yang memungkinkan sejumlah mitra asing terbatas tetap beroperasi dan mengekspor minyak Venezuela.


AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas pada 3 Januari 2026 atas perintah Presiden Donald Trump. Foto: Anadolu Agency.

 

Berapa besar investasi perusahaan minyak di Venezuela?


Sepanjang abad ke-20, AS merupakan mitra kunci bagi sektor perminyakan Venezuela. Namun, hampir seluruh perusahaan minyak AS hengkang setelah revolusi Chavez, kecuali Chevron.

Chevron memperoleh lisensi khusus dari pemerintahan Biden pada 2022 untuk melanjutkan ekspor minyak Venezuela dengan persyaratan ketat, sebagai upaya meredam tekanan pasar minyak global pasca invasi Rusia ke Ukraina. Pada Oktober 2025, pemerintahan Trump memberikan otorisasi baru bagi Chevron untuk kembali memproduksi minyak di Venezuela, dengan alasan perusahaan tersebut merupakan mitra strategis bagi Caracas.

Chevron saat ini mempekerjakan sekitar 3.000 pekerja di Venezuela dan dinilai menjadi pihak yang paling diuntungkan jika AS kembali membuka keran investasi. Trump juga menyatakan perusahaan minyak besar AS lainnya, seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips, berpotensi kembali masuk ke Venezuela.

ExxonMobil dan ConocoPhillips sebelumnya kehilangan asetnya setelah disita oleh pemerintahan Chavez pada 2007. Kedua perusahaan memenangkan gugatan arbitrase internasional senilai miliaran dolar, namun hingga kini Venezuela belum membayar kompensasi tersebut. Kondisi ini menjadi dasar klaim Trump mengenai “minyak curian” dari perusahaan AS.

"Kami membangun industri minyak Venezuela dengan bakat, dorongan, dan keahlian Amerika, dan rezim sosialis mencurinya dari kami selama pemerintahan sebelumnya, dan mereka mencurinya dengan kekerasan. Ini merupakan salah satu pencurian properti Amerika terbesar dalam sejarah negara kita," tegas dia.

ConocoPhillips mengatakan, pihaknya sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi implikasinya terhadap pasokan dan stabilitas energi global.

 

Bisakah trump menepati janji soal minyak?


Meski demikian, terdapat pertanyaan besar dari sisi hukum dan logistik terkait realisasi janji tersebut. Bentuk pemerintahan Venezuela pasca-Maduro masih belum jelas, termasuk sejauh mana pemerintah baru akan membuka ruang bagi pengaruh AS di sektor minyak.

Mantan Menteri Energi AS Dan Brouillette menyebut kendala utama bukan pada cadangan minyak, melainkan tata kelola, sanksi, akses permodalan, dan kemampuan pelaksanaan. Ia menilai peningkatan produksi kemungkinan terjadi secara bertahap, bukan lonjakan cepat.

"Kendala utamanya bukanlah geologi. Melainkan tata kelola, sanksi, akses modal, dan pelaksanaan. Jika perubahan politik membawa stabilisasi cepat dan otoritas yang kredibel atas PDVSA, keuntungannya adalah peningkatan pasokan secara bertahap dari waktu ke waktu, bukan lonjakan tiba-tiba," tulis dia di LinkedIn.

Di sisi lain, sanksi yang berkepanjangan membuat fasilitas minyak Venezuela kekurangan investasi untuk pemeliharaan dan modernisasi. Besarnya kebutuhan modal baru diperkirakan baru akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang.

Faktor lain yang turut menjadi pertimbangan adalah permintaan global. Harga minyak dunia telah turun selama setahun terakhir dan diperkirakan terus melemah pada 2026 akibat kelebihan pasokan. Jika produksi Venezuela meningkat signifikan, tambahan pasokan berpotensi menekan pasar global yang sudah jenuh. (Surya Mahmuda)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)