Bahlil Ungkap Dampak Geopolitik Dunia pada Pasokan Energi Global

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: dok YouTube Kementerian ESDM.

Bahlil Ungkap Dampak Geopolitik Dunia pada Pasokan Energi Global

Ade Hapsari Lestarini • 11 March 2026 16:47

Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kondisi geopolitik dunia menghantam semua negara. Mulai dari perang Ukraina-Rusia, Israel-Palestina, serta terbaru Amerika Serikat (AS)-Rusia.

Perang-perang tersebut kemudian menghantam berbagai macam sarana-sarana fasilitas produksi minyak di Timur Tengah. Bahkan, tidak ada satu negara pun yang dapat meramal kondisi geopolitik yang akan terjadi ke depan.

"Dampaknya apa? Hampir semua negara kena. Terimbas semua? Bukan hanya Indonesia," ujar Bahlil, dalam siniar Kementerian ESDM 'Bahlil Blak-blakan soal Stok BBM', Rabu, 11 Maret 2026.

Dia menjelaskan, Selat Hormuz saat ini dilalui pasokan minyak kurang lebih 21 juta barel per hari. Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Produksi minyak Indonesia pada 2025 hingga saat ini ada 605 ribu barel per hari.

"Konsumsi kita itu 1,6 juta barel per hari. Berarti kita itu impor satu juta barel per hari. Yang kita impor apa sih? Ini biar jelas juga. Yang pertama adalah kalau kebutuhan untuk solar kita itu 39 juta barel, 39 juta kiloliter per tahun," kata dia.
 




Ilustrasi. Foto: dok ICDX.
 

Dorong biodiesel menjadi B40


Bahlil menambahkan, pemerintah gencar mendorong biodiesel menjadi B40, yang kemudian menjadi B50 sesuai dengan kapasitas industri dalam negeri. Sehingga Indonesia tidak lagi mengimpor solar.

"Solar semua jelas. Kita sudah bisa produksi dalam negeri. Tidak ada impor untuk solar. Yang kedua yang kita impor apa? Bensin. Bensin ini total kebutuhan kita 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter, produksi kita sebelum RDMP Balikpapan ada kurang lebih 14,5 juta kiloliter," jelas dia.

Menurut Bahlil, melalui kilang RDMP Balikpapan yang sudah berjalan, Indonesia bisa menambah produksi 5,5 juta kiloliter, sehingga 20 juta kiloliter ada di dalam negeri. Adapun produk BBM untuk bensin sebesar 20 juta kiloliter.

"Yang berikut yang kita impor apa sih? Yang paling banyak crude-nya. Kalau tadi produk, sekarang crude-nya. Nah crude-nya ini adalah kita impor dari mana? Dari Afrika, Anggola, Middle East, Amerika, Brasil, sebagian dari Australia, dan beberapa negara lainnya. Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude? Ttotalnya 20-25 persen. Dari keseluruhan. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25 persen," ungkap Bahlil.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak khawatir dengan pasokan BBM dalam negeri karena Indonesia tidak mengimpor BBM jadi. Bensin yang masuk ke Indonesia, kata Bahlik, tidak diimpor dari Timur Tengah.

"Yang kita impor dari Timur Tengah itu crude-nya. Minyak mentahnya. Minyak mentahnya alias minyak mentah. Kita tidak mengimpor minyak jadi dari Middle East. Kita tidak impor produk. Kita tidak impor produk. Yang kita impor dari Middle East itu adalah minyak mentah. Nanti diolah di Indonesia. Baru kemudian itu yang kita distribusi ke rakyat," kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)