USS Makin Island akan dikerahkan ke Timur Tengah. Foto: US Navy
AS Kerahkan 9.000 Personel ke Timur Tengah, Tiga Kapal Induk Berpotensi Tiba
Muhammad Reyhansyah • 2 October 2026 14:13
Washington: Militer Amerika Serikat (AS) mengerahkan sekitar 9.000 personel menggunakan sejumlah kapal perang menuju Timur Tengah ketika Presiden Donald Trump kembali membuka kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Seorang pejabat AS mengatakan kelompok kapal yang kini menuju kawasan tersebut membawa lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir.
Mengutip TRT World, Jumat, 1 Oktober 2026, pengerahan tersebut mencakup kelompok kapal induk USS Theodore Roosevelt yang baru dikerahkan bersama kapal penjelajah USS Chosin, serta kelompok kapal kesiapan amfibi USS Makin Island yang terdiri atas kapal pendarat USS John P. Murtha dan USS Anchorage.
“Jika sesuai perkiraan, tiga kapal induk AS dapat berada di Timur Tengah pada akhir Oktober,” kata pejabat AS yang berbicara kepada Associated Press dengan syarat anonim karena membahas operasi militer sensitif.
Dengan mempertimbangkan personel AS yang sudah berada di Timur Tengah, pengerahan tersebut dapat meningkatkan jumlah personel Angkatan Laut dan Marinir AS di kawasan menjadi lebih dari 20.000 orang, dengan dukungan ratusan pesawat.
Angkatan Laut AS sebelumnya menempatkan tiga kelompok kapal induk di Timur Tengah pada April, untuk pertama kalinya sejak 2003.
Saat ini, kapal induk USS George H.W. Bush dan USS George Washington berada di kawasan tersebut bersama kelompok kapal kesiapan amfibi USS Boxer.
USS George Washington biasanya ditempatkan di Samudra Pasifik. Kapal tersebut kemudian dipindahkan ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln, yang sebelumnya menjalani pengerahan panjang dengan kru berada di laut selama lebih dari 260 hari berturut-turut.
Trump Buka Kemungkinan Serangan Baru
Pengerahan militer tersebut berlangsung ketika Trump kembali mengatakan AS mungkin meningkatkan serangan terhadap Iran setelah pemilu Amerika Serikat pada 3 November.Dalam wawancara dengan Time yang diterbitkan Kamis, Trump mengatakan kemungkinan tersebut “mungkin” terjadi.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai rencananya, Trump tidak memberikan rincian.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda karena, lihat, Anda bertanya, di mana Anda akan mengebom?” kata Trump dalam wawancara yang dilakukan pada Senin.
Trump juga mengatakan dirinya menolak proposal gencatan senjata terbaru dari Iran karena sejumlah hal yang sebelumnya tidak akan dia setujui tetap tidak dapat diterimanya saat ini.
Ia mencontohkan tawaran Iran untuk “membuka” kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi dunia. Namun, Trump mengatakan proposal secara keseluruhan “tidak cukup baik”.
Perang dan Pemilu AS
Ketika ditanya apakah perang yang semakin tidak populer tersebut dapat mengancam peluang Partai Republik dalam pemilu November, Trump awalnya menjawab, “Mungkin.”Namun, dia kemudian mengatakan perang tersebut justru dapat membantu karena Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.
“100 persen orang” menentang Iran memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan nuklir, kata Trump, termasuk masyarakat di seluruh dunia.
“Jadi, ketika Anda mengatakannya seperti itu, itu akan membantu,” tambah Putin.
“Kalau Anda tidak mengatakannya seperti itu, itu bisa merugikan,” imbuh Putin.
Trump pada Kamis juga mengatakan indikasi awal menunjukkan Iran terkait dengan kopilot yang menikam kapten pesawat tujuan Israel pada Rabu dalam insiden yang berujung pada pengalihan penerbangan ke Arab Saudi.