Polusi Udara New Delhi Melonjak hingga 30 Kali Batas WHO

New Delhi salah satu ibu kota paling tercemar di dunia. Foto: Anadolu

Polusi Udara New Delhi Melonjak hingga 30 Kali Batas WHO

Muhammad Reyhansyah • 5 November 2026 15:05

New Delhi: Polusi udara beracun di ibu kota India, New Delhi, melonjak hingga lebih dari 30 kali lipat batas harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rabu, 4 November 2026.

Peningkatan polusi tersebut terjadi tiga hari setelah pemerintah memperketat sejumlah langkah pengendalian, termasuk pembatasan lalu lintas dan aktivitas konstruksi, untuk mengurangi kabut asap di salah satu ibu kota paling tercemar di dunia itu. 

Kawasan metropolitan New Delhi dihuni lebih dari 30 juta orang.

Mengutip, Channel News Asia, kondisi diperkirakan semakin memburuk menjelang perayaan Deepavali pada Minggu, 8 November 2026. 

Festival cahaya umat Hindu tersebut biasanya dirayakan dengan pertunjukan kembang api yang berpotensi menambah polusi udara.

Mahkamah Agung India pada bulan ini mengizinkan penggunaan terbatas kembang api yang disebut ramah lingkungan dan dirancang untuk mengurangi emisi selama perayaan Deepavali. 

Namun, aturan pembatasan kerap dilanggar sehingga suara ledakan kembang api masih terdengar di berbagai penjuru kota.

Berdasarkan data perusahaan pemantau kualitas udara IQAir, konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah New Delhi mencapai lebih dari 461 mikrogram per meter kubik pada Rabu. PM2.5 merupakan partikel mikroskopis berbahaya yang dapat masuk ke aliran darah dan dikaitkan dengan risiko kanker.

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup India, kendaraan menyumbang 23 persen polusi udara musim dingin di Delhi. Sementara itu, pembakaran biomassa, termasuk pembakaran sisa tanaman pertanian, berkontribusi sebesar 20 persen.

Industri, termasuk pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, menyumbang sekitar 9 persen polusi. Adapun kontribusi terbesar berasal dari partikel sekunder, yakni sebesar 27 persen.

Partikel sekunder terbentuk ketika gas yang dilepaskan kendaraan, industri, pembangkit listrik, dan pembakaran biomassa bereaksi di atmosfer. Proses pembentukannya juga dipengaruhi oleh penggunaan pupuk dalam jumlah besar di lahan pertanian sekitar ibu kota.

Jacob Koshy, editor sains surat kabar The Hindu sekaligus penulis buku The Nitrogen Bomb, mengatakan amonia yang dilepaskan dari pupuk bereaksi dengan polutan lain dan membentuk partikel sekunder.

“Jumlah amonia yang sangat besar dan dilepaskan ke atmosfer menciptakan lapisan dasar bagi polutan lain untuk bereaksi,” kata Koshy.

Dampak polusi udara terhadap kesehatan juga menjadi perhatian serius di India. Studi yang diterbitkan pada 2024 dalam jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health memperkirakan sebanyak 3,8 juta kematian di India sepanjang 2009 hingga 2019 berkaitan dengan polusi udara.

(Fajar Nugraha)