Ruby Kholifah Angkat Islam sebagai Jembatan Dialog Lintas Iman

Aktivis hak asasi manusia dan perdamaian, Ruby Kholifah, Foto: Metrotvnews.com

Ruby Kholifah Angkat Islam sebagai Jembatan Dialog Lintas Iman

Muhammad Reyhansyah • 23 January 2026 14:18

Jakarta: Aktivis hak asasi manusia dan perdamaian, Ruby Kholifah, menerima The Franco-German Prize for Human Rights and the Rule of Law dari Pemerintah Jerman dan Prancis atas kiprahnya memperjuangkan pemberdayaan perempuan dan perdamaian berbasis nilai-nilai Islam yang inklusif serta dialog lintas iman di Indonesia.

Penghargaan ini sekaligus mencerminkan ketertarikan Pemerintah Jerman dan Prancis untuk mempelajari praktik dialog lintas iman di Indonesia, di tengah upaya Eropa memperkuat pendekatan interfaith dan menepis stigma islamofobia.

Ruby Kholifah merupakan pendiri dan Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Selama hampir 18 tahun, AMAN aktif membangun basis pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput, termasuk melalui program Sekolah Perempuan Perdamaian yang kini berjalan di 56 desa di berbagai wilayah Indonesia.

“Selama ini kami bekerja membangun ruang-ruang pembelajaran bagi perempuan lintas iman, agar mereka bisa belajar bersama, menguatkan kepemimpinan, dan berperan aktif dalam mendorong perdamaian di komunitasnya,” ujar Ruby saat ditemui Metrotvnews.com di Kediaman Kedutaan Besar Jerman, Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026.

Ia menyebut penghargaan tersebut bukan hanya bentuk pengakuan atas kerja panjang para aktivis, tetapi juga memiliki makna penting di tengah situasi global yang ditandai oleh krisis demokrasi, konflik bersenjata, dan kemunduran pemenuhan hak-hak perempuan.

“Timing-nya sangat tepat. Dunia sedang menghadapi krisis demokrasi dan HAM, konflik terjadi di banyak tempat, dan perjuangan perempuan semakin berat,” kata Ruby.

Ruby menyinggung situasi perempuan di berbagai negara konflik, seperti Iran dan Afghanistan, yang terus memperjuangkan hak-haknya di tengah tekanan politik dan kebijakan negara. Menurutnya, perempuan kerap menjadi kelompok paling rentan terdampak perang dan kekerasan.

“Di banyak negara perang, perempuan dan anak selalu menjadi pihak yang paling menderita. Karena itu, agenda perdamaian harus terus diperjuangkan,” tegasnya.

Ia berharap penghargaan tersebut dapat memperkuat pengakuan terhadap peran masyarakat sipil, khususnya perempuan, dalam menjaga demokrasi, HAM, dan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun global.

Penghargaan kepada Ruby Kholifah juga sejalan dengan pendekatan Pemerintah Jerman yang baru, yang tengah mendorong dialog lintas iman sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya. Indonesia dipandang sebagai contoh masyarakat plural yang mampu mengelola keberagaman agama secara relatif damai.

Melalui kiprahnya, Ruby dinilai berhasil menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi sumber etika perdamaian, keadilan sosial, dan perlindungan HAM, sekaligus menjadi jembatan dialog antariman di tengah meningkatnya polarisasi global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)