Presiden Amerika Serikat Donald Trump di World Economic Forum. Foto: YouTube WEF
Lima Poin Penting Pidato Trump
Fajar Nugraha • 23 January 2026 06:34
Davos: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Rabu, 21 Januari, memberikan pidato yang konfrontatif di hadapan para pemimpin dunia dan tokoh bisnis global dalam World Economic Forum (WEF) di Davos. Dalam pidato berdurasi lebih dari satu jam tersebut, Trump meluapkan berbagai keluhan terkait aliansi Barat, ambisi akuisisi wilayah, hingga kebijakan ekonomi yang dianggap merugikan AS.
Meskipun pidatonya dipenuhi kecaman, Trump memberikan satu sinyal rekonsiliasi dengan membatalkan ancaman tarif setelah mengeklaim adanya kerangka kesepakatan baru terkait Greenland. Berikut adalah lima poin utama yang merangkum jalannya pidato agresif Presiden AS tersebut:
1. Komitmen Tanpa Kekuatan Militer
Di tengah kekhawatiran global akan potensi konflik fisik, Trump memberikan pernyataan yang sedikit meredakan ketegangan dengan menegaskan bahwa ia tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Ia mengatakan, tidak akan menggunakan kekerasan.Pernyataan ini menjadi poin penting bagi para diplomat Eropa yang sebelumnya bersiaga menghadapi kemungkinan konfrontasi bersenjata. Meski demikian, Trump tetap pada pendiriannya bahwa Greenland secara geografis adalah bagian dari Amerika Utara dan harus berada di bawah kendali penuh Amerika Serikat.
2. Klaim Historis dan Kritik Terhadap Denmark
Trump memicu kontroversi dengan menyebut Denmark sebagai negara yang tidak tahu berterima kasih. Ia berargumen bahwa secara historis, Denmark berutang budi pada Amerika Serikat yang telah melindungi mereka dari pendudukan Jerman pada Perang Dunia II.Ia menyesali kebijakan masa lalu AS yang mengembalikan kedaulatan Greenland kepada Denmark setelah perang berakhir. Ia mengatakan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang bodoh, seraya menegaskan bahwa hanya AS yang memiliki kekuatan besar untuk mengamankan wilayah Arktik tersebut dari ancaman luar.
3. Luapan Keluhan dan Hinaan terhadap Pemimpin Dunia
Dalam pidato yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, Trump tidak segan-segan menghina sejumlah pemimpin negara secara personal. Ia mengejek Presiden Prancis Emmanuel Macron, mengeluarkan ancaman tersirat kepada Perdana Menteri Kanada Mark Carney, bahkan meremehkan negara tuan rumah Swiss dengan menyebut mereka hanya makmur karena faktor Amerika Serikat.Tak hanya itu, ia juga membawa sentimen domestik dengan menyerang anggota Kongres AS, Ilhan Omar, terkait isu imigrasi dan kegagalan integrasi budaya asing yang menurutnya mengancam nilai-nilai Barat.
4. Reaksi Dingin dan Kejenuhan Peserta Forum
Walaupun ruangan dipenuhi peserta yang berebut masuk, antusiasme tersebut meredup seiring jalannya pidato. Para hadirin yang terdiri dari pengusaha kelas atas dan pejabat pemerintah lebih banyak terdiam saat Trump melontarkan klaim-klaim yang tidak akurat, termasuk serangannya terhadap energi angin yang dianggapnya bodoh.Sebagian besar peserta tampak tidak nyaman dan hanya memberikan tepuk tangan yang lemah di akhir pidato, sementara beberapa diplomat internasional dilaporkan meninggalkan ruangan sebelum pidato selesai.
5. Visi Eropa yang Tidak Dikenali
Sebagai penutup argumennya, Trump menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi Eropa saat ini. Ia menilai benua tersebut telah kehilangan identitasnya akibat kebijakan migrasi yang tidak terkendali dan ideologi ekonomi radikal. Trump menegaskan bahwa tanpa intervensi dan perlindungan AS, negara-negara Eropa tidak akan berfungsi secara stabil.Narasi ini digunakannya untuk menekan negara-negara sekutu agar lebih kooperatif dalam mewujudkan ambisi geopolitiknya di Greenland sebagai bentuk "balas budi" atas jaminan keamanan dari Washington.
(Kelvin Yurcel)