BNI Bukukan Kredit Rp968,5 Triliun di Semester I-2026

Gedung Bank BNI. Foto: dok BNI.

BNI Bukukan Kredit Rp968,5 Triliun di Semester I-2026

Husen Miftahudin • 10 August 2026 12:45

Jakarta: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 24,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp968,5 triliun hingga semester I-2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang portofolio kredit yang terdiversifikasi pada sejumlah sektor dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, segmen menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui pertumbuhan yang berorientasi pada kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama seperti dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2026.

Adapun, transformasi digital menjadi salah satu pendorong produktivitas bisnis BNI. Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta. Volume transaksi melalui kanal tersebut tumbuh 110 persen yoy.

Pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu. Volume transaksi BNIdirect meningkat 17 persen yoy menjadi Rp6.039 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan penggunaan kanal digital BNI oleh nasabah ritel dan korporasi.

BNI juga telah menerapkan BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) di seluruh wilayah operasional perseroan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat fungsi kantor cabang sebagai pusat penjualan, meningkatkan produktivitas jaringan, serta mengoptimalkan potensi bisnis di setiap daerah.

"Melalui BRAVE, setiap wilayah dan kantor cabang memiliki peran yang semakin kuat dalam menggali potensi ekonomi lokal serta membangun ekosistem bisnis. Integrasi antara kapabilitas jaringan dan solusi digital diharapkan dapat mempercepat akuisisi, memperluas transaksi, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan nasabah," papar Putrama.

BNI menyebut transformasi digital dan BRAVE menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kapabilitas bisnis dan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan nasabah.
 

 

Pendanaan menguat, CASA capai 65,4%


Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur.

Di sisi pendanaan, Current Account Savings Account (CASA) BNI tumbuh 11,2 persen yoy. Rasio CASA berada pada level 65,4 persen. Penguatan dana murah tersebut turut mendukung efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga turun menjadi 2,56 persen, dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Struktur pendanaan tersebut menjadi salah satu penopang ekspansi kredit BNI di tengah persaingan likuiditas perbankan. Pertumbuhan kredit dan transaksi turut menopang pendapatan inti BNI.

Hingga semester I-2026, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 14,2 persen yoy menjadi Rp22,3 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee-based income/FBI) juga meningkat 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.

Pertumbuhan kedua sumber pendapatan tersebut mendorong pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah BNI untuk periode semester pertama. Adapun laba bersih BNI tercatat sebesar Rp10,8 triliun.

"Peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari ekspansi kredit, tetapi juga dari pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, serta aktivitas berbasis komisi lainnya. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi," jelas Paolo.


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Kualitas aset tetap terjaga


Di tengah ekspansi kredit, BNI mencatat perbaikan kualitas aset. Hingga akhir Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1 persen, dari 11 persen pada periode sebelumnya. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.

BNI juga mempertahankan kebijakan pencadangan secara konservatif sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko. Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan pengelolaan risiko dilakukan sejak penentuan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan setelah kredit disalurkan.

"Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat," ujar David.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan mempertahankan fokus pada penguatan struktur pendanaan dan pertumbuhan kredit yang berkualitas serta terdiversifikasi. Perseroan juga akan menjaga kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan secara disiplin.

Transformasi BRAVE dan digital turut dilanjutkan untuk meningkatkan produktivitas jaringan dan layanan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi BNI dalam memperkuat fundamental bisnis dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Dalam bahan yang disampaikan perseroan, arah transformasi tersebut juga ditempatkan dalam agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

(Husen Miftahudin)