Mahasiswa KKN Undip Dorong Warga Batang Ubah Sampah Jadi Cuan

Bank Sampah Mahasiswa KKN Undip. Foto: Istimewa

Mahasiswa KKN Undip Dorong Warga Batang Ubah Sampah Jadi Cuan

Muhamad Marup • 13 August 2026 16:18

Batang: Tim 10 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) menggagas pembentukan Bank Sampah Dena Lestari Berdaya di Desa Denasri Wetan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Program ini digagas bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan ibu-ibu PKK untuk meningkatkan kesadaran warga dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangga.

Bank Sampah Dena Lestari Berdaya dilatarbelakangi terbatasnya pengetahuan masyarakat mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah. Sampah rumah tangga yang dihasilkan warga belum sepenuhnya dipisahkan berdasarkan jenisnya sehingga material yang masih memiliki nilai guna dan ekonomi belum dikelola secara maksimal.

"Kami ingin masyarakat tidak melihat sampah hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa dipilah dan memiliki nilai," ujar Koordinator Tim 10, Jadev Abrar, dalam keterangannya, Kamis, 13 Agustus 2026.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya itu mengatakan, pembentukan bank sampah tidak hanya berorientasi pada persoalan kebersihan, tetapi juga membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan warga sejak tahap awal penting agar program tidak berhenti setelah mahasiswa KKN meninggalkan desa.

"Karena itu, sejak awal kami melibatkan BUMDes dan PKK agar program ini bisa terus berjalan," jelasnya.

Jadev berharap Bank Sampah Dena Lestari Berdaya dapat menjadi kebiasaan bersama dalam memilah dan mengolah sampah dari tingkat rumah tangga. Dengan pemilahan sejak sumbernya, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan dan dikelola secara lebih optimal.

"Bank sampah ini bukan hanya tempat menyetorkan sampah, tetapi juga bisa menjadi wadah pemberdayaan dan kegiatan ekonomi masyarakat," katanya.

Program tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pengurangan dan penanganan sampah dimulai dari sumbernya. Pemilahan sampah rumah tangga berdasarkan jenis menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir sekaligus meningkatkan potensi daur ulang.

Konsep tersebut juga sejalan dengan pengembangan ekonomi sirkular, ketika sampah tidak semata dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. 

Aktivitas Bank Sampah Mahasiswa KKN Undip. Foto: Istimewa

Ketua Bank Sampah Dena Lestari Berdaya, Ilham Yahya, mengatakan keberadaan bank sampah diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap sampah. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dikumpulkan, dipilah, dan dimanfaatkan kembali sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

"Program ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dengan mengubah sampah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual," kata Ilham.

Melalui kolaborasi pemerintah desa, BUMDes, PKK, dan masyarakat, Bank Sampah Dena Lestari Berdaya diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan berbasis lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Nama Dena Lestari Berdaya sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan identitas dan tujuan program. Kata “Dena” diambil dari nama Desa Denasri Wetan sebagai identitas bank sampah tersebut.

Sementara “Lestari” mencerminkan harapan agar kebersihan dan kelestarian lingkungan tetap terjaga. Adapun kata “Berdaya” menggambarkan cita-cita untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus memanfaatkan potensi ekonominya.

Bank Sampah Dena Lestari Berdaya ditempatkan di Balai Desa Denasri Wetan, Gang Anggrek, Kecamatan Batang. Lokasi tersebut dipilih agar masyarakat lebih mudah menyetorkan sampah sekaligus memperluas akses warga terhadap program pengelolaan sampah.

Uji coba operasional bank sampah dilakukan pada Minggu, 9 Agustus 2026. Dalam kegiatan perdana itu, ibu-ibu PKK mengumpulkan sampah dari lingkungan sekitar untuk kemudian dibawa dan dikumpulkan di lokasi bank sampah.

Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan. Dalam uji coba tersebut, sampah yang terkumpul bahkan mencapai satu mobil pikap.

(Muhamad Marup)