Ilustrasi minyak mentah. Foto: Freepik
Penuhi Kebutuhan BBM, KKKS Diharapkan Bawa Pulang Produksi Minyak di Luar Negeri
Achmad Zulfikar Fazli • 6 April 2026 19:11
Jakarta: Di tengah ancaman krisis energi global, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) asal Indonesia, seperti Pertamina dan Medco, dinilai perlu membawa produksi minyak mereka di luar negeri. Minyak mentah hasil produksi di luar negeri itu, bisa diolah di kilang-kilang Indonesia dengan harga publish rate, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) domestik.
”Saya sepakat dan mendukung perusahaan migas asal Indonesia untuk membawa pulang minyak dari luar negeri (dan mengolah di kilang di dalam negeri dengan harga publish rate). Karena dari sisi bisnis ada selisih sedikit, namun yang penting dalam negeri terpenuhi dahulu,” kata Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, dalam keterangannya, Senin, 6 April 2026.
Menurut Komaidi, upaya tersebut sangat positif. Sebab, saat ini terpenting adalah ketersediaan BBM dalam negeri.
Komaidi menyampaikan upaya membawa pulang minyak mentah dari luar negeri tersebut, pernah dilakukan Pertamina akhir Januari 2026. Ketika itu BUMN tersebut membawa pulang 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair.
Minyak mentah tersebut bukan impor. Namun berasal dari Wilayah Kerja (WK) Blok 405 A Aljazair, yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP) yang berada di bawah naungan Subholding Upstream Pertamina.
Oleh karena itu, di tengah krisis energi global yang berpotensi merambah ke Indonesia, diharapkan Pertamina kembali membawa hasil produk mereka di luar negeri. Begitu juga seperti perusahaan migas lain asal Indonesia, seperti Medco.
Selain itu, diharapkan minyak mentah perusahaan swasta KKKS yang beroperasi di Indonesia, bisa dijual ke kilang-kilang Pertamina.
Komaidi menambahkan saat ini kepentingan nasional memang harus diutamakan. Apalagi, selain harga minyak dunia terus melambung, kurs rupiah terhadap dolar AS terus melemah, dan pasokan minyak mentah sangat terbatas.
Menurut dia, segala upaya memang harus dilakukan. Tidak hanya mencari sumber-sumber pasokan baru, namun membawa pulang minyak mentah hasil produksi perusahaan migas Indonesia di luar negeri.
.jpeg)
Ilustrasi. Dok. MTVN
Baca Juga:
Bahlil Buka Opsi Impor Minyak Mentah dari Rusia |
Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro. Dia mendukung perusahaan migas asal Indonesia membawa pulang produknya di luar negeri demi terjaganya pasokan BBM di dalam negeri.
”Ya memang itu harus dilakukan, membawa pulang minyak hasil ekspansi ke luar negeri, agar dalam negeri tidak defisit,” kata Elan.
Saat kondisi geopolitik tidak menentu seperti ini, jelas Elan, berbagai pihak memang harus melakukan berbagai upaya agar kebutuhan dalam negeri mencukupi.
”Kondisi seperti sekarang kita harus cari-cari akal. Kalau tidak, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi. Kalau masyarakat mungkin kita bisa imbau untuk berhemat, tapi kebutuhan industri, untuk pengembangan ekonomi, barang dan jasa di kawasan industri kan butuh BBM,” ujar Elan.
Elan berharap Pertamina kembali membawa pulang minyak produk mereka dari Aljazair, seperti yang dilakukan pada Januari 2026. Menurut Elan, upaya tersebut cukup signifikan di tengah ancaman krisis energi saat ini.
“Signifikan, ini tambahan suplai yang penting. Apalagi dalam kondisi geopolitik global yang sedang tidak stabil,” ucap dia.
Elan mengatakan saat ini terpenting perusahaan migas asal Indonesia bisa mendapatkan barang guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sehingga, bisa menggerakkan roda perekonomian.
”Sekarang lupakan dulu harga. Yang penting suplainya. Barangnya ada dulu, baru bicara harga. Jadi biar ekonomi juga berputar,” ujar Elan.