Beberapa kapal nelayan di Pantai Klidang Lor, Kabupaten Batang sedang bersandar karena kondisi cuaca di peraiaran laut sedang terjadi gelombang tinggi di Batang. ANTARA/Kutnadi
Cuaca Ekstrem, Nelayan di Batang Diimbau Berhenti Melaut Hingga Februari
Silvana Febiari • 14 January 2026 16:56
Batang: Nelayan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah diimbau untuk sementara menghentikan aktivitas melaut karena cuaca ekstrem yang memicu gelombang tinggi di perairan. Kondisi tersebut dipengaruhi puncak musim baratan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dan diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
"Saat ini, kondisi pantai jelas terlihat ombak besar. Oleh karena itu, keselamatan adalah prioritas utama. Kami minta para nelayan tidak melaut dulu sementara waktu," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang Teguh Tarmujo, di Batang, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Januari 2026.
Sekitar 10 ribu nelayan kini menghentikan sementara aktivitas melaut dan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal masing-masing. Menurutnya, periode Desember 2025 hingga Februari 2026 merupakan puncak musim hujan dengan kondisi laut yang kerap tidak bersahabat dan berbahaya bagi keselamatan nelayan.
"Sebagian besar nelayan, baik skala kecil maupun menengah, memanfaatkan masa jeda ini untuk memperbaiki alat tangkap, kapal, serta perlengkapan lainnya," ujar Teguh.
Hanya saja, berhentinya aktivitas melaut berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat pesisir. Pasalnya, para nelayan tidak memiliki sumber pendapatan tetap selain dari hasil menangkap ikan.
"Jika tidak melaut, tidak ada penghasilan. Ini adalah masa paceklik yang dipaksa oleh alam," ungkapnya.

Ilustrasi. Medcom.id
Secara administratif, peluang melaut masih terbuka karena Syahbandar Perikanan belum menghentikan penerbitan izin berlayar. Namun, hal ini juga menciptakan dilema antara mempertaruhkan keselamatan jiwa nelayan dan tekanan memenuhi kebutuhan ekonomi.
"Kami tidak bisa melarang sepenuhnya, karena tuntutan hidup. Berbeda dengan pekerja tetap, penghasilan nelayan 100 persen bergantung pada tangkapan ikan," pungkas Teguh.