Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Foto: Metro TV.
Surya Paloh: Demokrasi Tanpa Moralitas adalah Demokrasi Sampah
Fachri Audhia Hafiez • 26 April 2026 13:57
Jakarta: Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, menegaskan terkait esensi demokrasi Indonesia dalam penutupan Laboratorium Gerakan (Laga) Perubahan Partai NasDem. Surya Paloh menegaskan bahwa demokrasi yang kehilangan koridor moralitas dan hanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan adalah sebuah kesia-siaan bagi bangsa.
“Apa arti kebebasan berdemokrasi negeri ini? NasDem menyatakan itu demokrasi nonsens itu. Itu demokrasi sampah menurut NasDem. Tidak ada gunanya demokrasi hanya untuk demokrasi. Tidak ada gunanya kebebasan hanya untuk kebebasan. Itu bukan yang dipahamin oleh NasDem. Kita butuh demokrasi, tetapi demokrasinya mengantarkan tujuan-tujuan kemerdekaan ini,” ujar Surya Paloh dalam siaran langsung Metro Siang Metro TV, Minggu, 26 April 2026.
Surya Paloh mengingatkan bahwa nasionalisme bukanlah hak eksklusif kelompok tertentu seperti akademisi, teknokrat, atau pengamat, melainkan milik seluruh elemen bangsa. Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk bergerak dalam koridor kepantasan dan kepatutan yang sarat akan nilai moralitas.
Di hadapan para kader, Surya Paloh juga menyoroti bahaya ketamakan dan penyalahgunaan kepentingan. Ia mengajak kader NasDem untuk memperjuangkan hal-hal bernilai positif.
“Yang kita perjuangkan, perlu perjuangkan itulah mengenal diri kita sendiri. Bersikap jujur dan objektif pada diri kita sendiri. Apa artinya kita untuk orang lain di luar diri kita? Tidak hanya terbatas kepada anak, adik, kakak, bapak, ibu kita, tapi juga untuk masyarakat yang lebih luas,” tegasnya.
.jpg)
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Foto: Metro TV.
Lebih lanjut, Surya Paloh memberikan mandat kepada kader NasDem untuk menjadi contoh dalam menjaga hak dan kewajiban warga negara secara proporsional. Ia menegaskan bahwa kader harus berjuang untuk menjadi pribadi yang rajin, pintar, dan santun, serta tidak mengambil hak orang lain hanya karena sedang menggenggam kekuasaan.
"Mau menjadi orang yang santun, tahu diri, tahu mengenal asas kepantasan, tidak tamak, tidak rakus, tidak mengambil haknya, bukan haknya, hak orang lain. Mentang-mentang dia berkuasa, apa saja dia bisa buat. Itu tidak perlu diperjuangkan," tegas Surya Paloh.