Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam acara Pavilion Indonesia di Venesia. Istimewa.
Paviliun Indonesia di Venesia Pamerkan Karya Tujuh Seniman Tanah Air
Arga Sumantri • 14 May 2026 20:58
Venesia: Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, resmi membuka Paviliun Indonesia di Biannale Venesia, Italia. Kegiatan pameran ini mengusung tema Printing the Unprinted dan menghadirkan karya tujuh seniman Indonesia, Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agusyina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Fadli Zon menyampaikan partisipasi Indonesia dalam Biennale Venesia ke-61 merupakan bukti komitmen negara untuk memastikan budaya dapat berdiri di pusat pembangunan, diplomasi, ekonomi dan menjadi kontribusi bagi peradaban dunia.
Fadli Zon juga mengaitkan tema Paviliun Indonesia dengan dua narasi penting tentang Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki Mega Diversitas dengan 17 ribu pulau, 1.340 kelompok etnis, dan 718 bahasa daerah.
"Kedalaman sejarah ini memberi kami keharusan untuk bertanggungjawab dan inspirasi untuk melanjutkan narasi peradaban kami bagi dunia," kata Fadli Zon dalam keterangannya, Kamis, 14 Mei 2026.
Fadli Zon mengajak seluruh pengunjung pameran untuk menyambut tema pameran tersebut sebagai upaya untuk terus mengambil bagian dalam percakapan global tentang sejarah, ingatan, imajinasi dan masa depan budaya.
Kolaborasi Negeri Elok
Fadli juga meyakini bahwa idealnya budaya tidak berjalan sendiri dan seharusnya dapat tumbuh melalui kolaborasi terutama yang dilakukan antar generasi agar terjadi transfer pengetahuan yang membuatnya dapat terus sinambung.Itu sebabnya Kementerian Kebudayaan menyambut baik inisiatif Komunitas Kreatif Negeri Elok untuk mempertemukan para seniman Paviliun Indonesia dengan tujuh orang talenta muda yang baru saja usai menjalani residensi seni untuk penyembuhan (art healing) selama dua bulan di kota Florence.
Ketujuh talenta muda itu berkesempatan mengunjungi para seniman Paviliun Indonesia yang masing-masing, kemudian dipasangkan untuk berkolaborasi. Negeri Elok meminta ketujuh seniman senior tersebut menjadi mentor bagi tujuh talenta muda Indonesia yang datang. Mereka bekerjasama, memberi arahan, dan berkarya bersama.
Hasil karya kolaborasi tersebut juga ikut mengisi salah satu ruangan di Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
.jpeg)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Foto: Istimewa.
Paviliun Indonesia tawarkan cara berbeda memahami dunia
Kurator pameran Aminudin TH Siregar mengatakan bahwa Paviliun Indonesia menawarkan sebuah cara berbeda memahami dunia dan terlibat dalam percakapan global."Bukan melalui pencarian tunggal, melainkan melalui perjalanan yang saling terkait, pertukaran yang bertimbal balik, juga irisan-irisan narasi yang senantiasa hadir melampaui berbagai batasan pencatatan resmi yang diakui," ujar Aminudin.
Aminudin menjelaskan tentang manuskrip rekaan berjudul 'Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng' yang menjadi titik tolak narasi dalam karya-karya yang ditampilkan. Namun, kendati berangkat dari sebuah rekaan, narasi yang dipercakapkan sama sekali tak melarikan diri dari sejarah. Fiksi dihadirkan sebagai serangkaian pertanyaan tentang bagaimana sejarah mengkonstruksikan dirinya sendiri.
"Pertanyaan-pertanyaan tersebut meminta kita untuk kembali menyadari siapa yang memiliki kuasa untuk menarasikan dunia dan kemudian mencatatkan pengetahuan tersebut sebagai arsip serta siapa-siapa yang pengalamannya terus terkubur tanpa catatan," ujarnya.
Aminudin para seniman menyiapkan karya-karya ini secara langsung di Venesia, setelah melalui proses residensi di Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
Selama empat pekan, para perupa mengikuti lokakarya seni cetak (printmaking) bersama pengajar Scuola Grafica, mempelajari seluk beluk seni cetak dan merancang karya mereka bukan pada kertas, kanvas, atau medium lain yang biasa mereka gunakan, melaikan pada plat tembaga untuk kemudian memulasnya dengan cat berbasis air yang ramah lingkungan.
"Perlu berkali-kali percobaan hingga saya bisa menemukan bentuk dan komposisi warna yang tepat bagi gambar-gambar portrait yang saya buat," ujar R. E. Hartanto.
Sementara, Theresia Agustina Sitompul, yang memang terbiasa menggunakan seni cetak sebagai teknik bagi karya-karyanya, kerap jadi tempat bertanya dan tak segan membantu seniman lain yang tak terbiasa bekerja dengan seni cetak mengatasi kendala yang dihadapinya.
Syahrizal Pahlevi, yang hampir selalu berkarya dengan teknik cukil kayu, seperti menemukan taman bermain yang menyenangkan, baik di dalam studio, maupun ketika berkeliling ke lorong-lorong kota Venesia, mengajak pejalan kaki menjadi model untuk ia terakan wajah mereka ke atas papan kayu yang dibawa dan kemudian dicetakkan ke atas kain dengan tinta biru. Warna yang dterapkan pada seluruh karya cukil wajah yang dikerjakan sepanjang waktu residensi.
Pahlevi juga mengadakan demo cukil kayu tepat di sisi totem penunjuk arah menuju Paviliun Indonesia dengan model spesial, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon. Pameran Printing the Unprinted Paviliun Indonesia di Venice Biennale akan berlangsung hingga 22 November 2026 mendatang.