Nelayan di Perairan Sumut Diimbau Waspada Gelombang Tinggi

Gelombang tinggi di pantai Ampenan, Mataram, NTB. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa/am

Nelayan di Perairan Sumut Diimbau Waspada Gelombang Tinggi

Silvana Febiari • 12 May 2026 18:50

Medan: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan nelayan serta para pemangku kepentingan lainnya untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Sumatra Utara (Sumut). Kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada 13 hingga 15 Mei 2026.

"Waspadai gelombang tinggi yang dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter karena dapat mengganggu pelayaran," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Rizki Fadhillah Pratama Putra, dilansir dari Antara, Selasa, 12 Mei 2026. 

Ia menyebutkan pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari timur laut hingga tenggara dengan kecepatan angin berkisar 4-15 knot. Sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan, umumnya bergerak dari timur hingga tenggara dengan kecepatan angin berkisar 6-25 knot.
 


Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di perairan barat Sumatra Utara, perairan timur Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Nias, perairan Kepulauan Batu, perairan barat Kepulauan Batu dan Samudera Hindia barat Kepulauan Nias.

Nelayan yang menggunakan perahu diimbau untuk waspada jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter. Nelayan yang menggunakan kapal tongkang juga diminta meningkatkan kewaspadaan jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter.


Ilustrasi gelombang tinggi . ANTARA/HO-Antaranews


Sebelumnya, Prakirawan BBMKG Wilayah I Putri Diana mengatakan aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) dan pemanasan udara yang cukup kuat di permukaan pada siang hari dapat membuat atmosfer menjadi labil. Kondisi ini memicu pengangkatan massa udara ke atas sehingga berpotensi terjadi hujan.

Adanya daerah pertemuan angin konvergensi dan konfluensi di sepanjang pantai barat, pantai timur hingga pegunungan Sumatra Utara sehingga meningkatkan pertumbuhan awan awan hujan di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Diprakirakan sepekan ke depan hujan masih berpotensi terjadi akibat pengaruh dinamika atmosfer seperti Fenomena MJO yang berada di fase 3 (Indian Ocean) serta adanya daerah konvergensi dan konfluensi. Kondisi ini memanjang di pesisir timur hingga barat Sumatra Utara sehingga meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Pada skala lokal, kondisi labilitas atmosfer terpantau cukup kuat di Sumatra Utara, sehingga turut mendukung proses konvektif. "Atas kondisi tersebut, cuaca di Sumatera Utara umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga sangat lebat," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)