Geopolitik Timur Tengah Tekan Rantai Pasok Industri Pelumas

Senior Director Kline & Company Satyan Gupta. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.

Geopolitik Timur Tengah Tekan Rantai Pasok Industri Pelumas

Ade Hapsari Lestarini • 22 September 2026 18:46

Jakarta: Konflik geopolitik di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap rantai pasok industri pelumas. Gangguan tersebut dapat berdampak terhadap pasokan minyak mentah, biaya pengiriman, hingga ketersediaan bahan baku industri.

Senior Director Kline & Company Satyan Gupta mengatakan konflik geopolitik menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi industri pelumas. Dampaknya dapat merambat dari harga minyak mentah hingga bahan baku yang digunakan dalam produksi pelumas.

Gangguan terhadap jalur pengiriman juga dapat meningkatkan biaya logistik dan asuransi. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi industri.

"Setiap kali terjadi krisis seperti ini, hal pertama yang terdampak adalah pasokan minyak mentah. Kemudian pengiriman dan asuransi menjadi lebih mahal, dan setelah itu dampaknya mulai mengalir ke base oil serta bahan baku lainnya," ujar dia, saat ditemui oleh Metrotvnews.com, dikutip Selasa, 22 September 2026.

Menurut Satyan, tekanan tersebut dapat mendorong kenaikan harga pelumas hingga dua digit apabila berlangsung dalam periode tertentu.
 

Turut pengaruhi strategi bisnis Shell Lubricants


Konflik geopolitik turut menjadi tantangan bagi Shell dalam menjaga rantai pasok pelumas, terutama di tengah gangguan pasokan bahan baku dan jalur distribusi global.

Di sisi lain, Shell tercatat mempertahankan posisi sebagai pemasok pelumas global nomor satu selama 20 tahun berturut-turut berdasarkan laporan Kline & Company.

Global Executive Vice President Shell Lubricants Jason Wong mengatakan mempertahankan posisi tersebut selama dua dekade membutuhkan konsistensi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan.

"Dua puluh tahun berturut-turut sebenarnya sangat sulit. Sebab, ini bukan hanya tentang satu atau dua tahun, melainkan konsistensi dalam memberikan hasil," ujar Jason.

Menurut Jason, terdapat lima faktor yang menjadi kekuatan perusahaan, yakni kekuatan merek, teknologi dan inovasi, rantai pasok, jangkauan pasar, serta kemitraan.


Ilustrasi. Foto: Magnific.
 

Di tengah berbagai perubahan pasar, rantai pasok menjadi salah satu aspek yang diperkuat perusahaan. Jason mengungkapkan Shell memiliki jaringan rantai pasok yang mencakup pusat teknologi, fasilitas produksi base oil, pabrik pencampuran pelumas, hingga pabrik grease yang tersebar di berbagai negara.

"Tidak banyak perusahaan yang memiliki rantai pasok end-to-end yang tersebar di seluruh dunia," tutur Jason.

Saat ini, Shell didukung lima pusat teknologi di berbagai negara, empat fasilitas produksi base oil, 32 pabrik pencampuran pelumas, serta 11 pabrik grease. Jaringan tersebut digunakan untuk melayani sekitar 160 pasar di berbagai negara.

Selain rantai pasok, Jason mengatakan kemitraan dengan original equipment manufacturer (OEM) menjadi salah satu bagian penting dalam strategi perusahaan. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mengembangkan produk sesuai kebutuhan dan spesifikasi industri ke depan.
 

Konsumen dapat ubah pola pembelian


Kenaikan harga turut berpotensi mengubah perilaku konsumen dalam menggunakan pelumas. Satyan mengatakan konsumen dapat menunda penggantian oli ketika harga meningkat.

Selain memperpanjang interval penggantian oli, sebagian konsumen dapat beralih ke produk dengan harga lebih rendah atau mencari alternatif melalui saluran penjualan yang lebih murah.

Perubahan perilaku tidak hanya terjadi pada konsumen. Distributor juga dapat menyesuaikan jumlah persediaan dan memilih menyimpan stok sesuai kebutuhan untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

Meski demikian, Satyan menilai tekanan akibat konflik geopolitik bersifat sementara dan tidak mengubah fundamental pertumbuhan pasar pelumas Indonesia dalam jangka panjang.

"Tentu saja ada beberapa gangguan, beberapa perubahan sementara karena krisis Timur Tengah yang sedang berlangsung. Namun, fondasi pertumbuhannya sangat kuat dan hal tersebut tidak akan berdampak secara material terhadap keseluruhan potensi pertumbuhan yang ditawarkan pasar ini," ujar Satyan.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Indonesia masih dinilai memiliki sejumlah faktor yang menopang permintaan pelumas. Pertumbuhan mobilitas masyarakat, urbanisasi, aktivitas logistik, pembangunan infrastruktur hingga perkembangan sektor industri menjadi sejumlah faktor yang mendukung kebutuhan pelumas.

Dengan kondisi tersebut, dampak konflik geopolitik diperkirakan lebih banyak memberikan tekanan jangka pendek terhadap rantai pasok dan harga dibandingkan mengubah prospek pertumbuhan pasar secara keseluruhan. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Ade Hapsari Lestarini)