Ilustrasi. Medcom.id
BMKG Prediksi Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur Akibat El Nino
Lukman Diah Sari • 22 September 2026 10:32
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan kondisi rata-rata klimatologisnya. Kondisi ini dipicu oleh pengaruh fenomena El Nino kategori sangat kuat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa fenomena anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan nilai +2,63. Angka ini menandakan El Nino berada pada kategori sangat kuat dan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.
"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat di 529 Zona Musim atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia," kata Faisal, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 22 September 2026, melansir Antara.
Meskipun kedatangannya terlambat, akumulasi curah hujan pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia diprediksi masih berada pada kategori normal.

Ilustrasi - Sejumlah pengendara menerobos hujan di Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA FOTO/Arnas Padda/aww./pri.
Untuk puncak musim hujan, BMKG memproyeksikan akan terjadi secara bergelombang mulai Desember 2026 di 155 ZOM (36,94 persen daratan), Januari 2027 di 162 ZOM (25,68 persen daratan), hingga Februari 2027 di 190 ZOM (16,79 persen daratan). Adapun durasi musim hujan di 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi akan berlangsung lebih pendek dari kondisi normalnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan sektor strategis untuk memanfaatkan kedatangan musim hujan guna mengisi waduk serta memperluas area tanam, sembari meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.
"Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat. Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko, tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi," tutur Teuku Faisal Fathani.