Menlu Sugiono saat menyampaikan National Statement di Sidang Majelis Umum PBB sesi ke-81 di New York, Amerika Serikat, 26 September 2026. (webtv.un)
Multilateralisme di Persimpangan: Pesan Menlu Sugiono dari Markas PBB
Willy Haryono • 27 September 2026 05:24
New York: Menteri Luar Negeri Sugiono menyerukan penguatan dan reformasi sistem multilateral agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia dan merespons berbagai tantangan global.
Tak hanya itu, multilateralisme juga harus mampu memberikan hasil nyata agar tetap mendapat kepercayaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat, Sabtu, 26 September 2026 waktu setempat.
Menlu Sugiono mengatakan Indonesia dan PBB lahir 81 tahun lalu usai berakhirnya Perang Dunia II dengan keyakinan bahwa dunia membutuhkan masa depan yang dibangun melalui perdamaian.
Namun, perjalanan delapan dekade terakhir juga diwarnai berbagai krisis, mulai dari krisis keuangan, pandemi global, bencana iklim, rivalitas geopolitik hingga konflik di berbagai belahan dunia.
Dari berbagai perubahan dan krisis tersebut, Menlu Sugiono mengatakan ada satu pelajaran penting bahwa perdamaian dan kemakmuran membutuhkan multilateralisme yang tangguh.
“Untuk memastikan perdamaian dan kemakmuran bertahan, multilateralisme harus tangguh. Ia harus mampu beradaptasi, merespons, dan yang terpenting, memberikan hasil,” kata Menlu Sugiono.
Ia mengatakan bahwa kemampuan sistem multilateral dalam menghasilkan sesuatu yang konkret berkaitan dengan kepercayaan masyarakat. Jika sistem tersebut tidak mampu memberikan hasil, kepercayaan terhadap multilateralisme akan tergerus.
Multilateralisme yang Lebih Kuat
Karena itu, Indonesia menilai sistem multilateral perlu diperkuat dan disesuaikan dengan tantangan dunia saat ini. Menlu Sugiono menegaskan, jawaban atas kelemahan multilateralisme bukanlah mengurangi peran sistem tersebut.“Mari kita tegaskan bahwa jawaban atas multilateralisme yang tidak sempurna bukanlah multilateralisme yang lebih sedikit. Jawabannya adalah multilateralisme yang lebih kuat dan lebih baik,” ujar dia.
Menlu Sugiono juga mengatakan bahwa sistem multilateral yang sesuai untuk abad ke-21 harus memiliki tiga karakter utama: lebih representatif, lebih lincah, dan lebih mampu menghasilkan sesuatu.
Transformasi kelembagaan memang tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, lanjut Menlu Sugiono. Namun, urgensi berbagai persoalan yang dihadapi dunia saat ini menuntut negara-negara untuk mulai bertindak.
“Transformasi kelembagaan tidak akan terjadi dalam semalam, tetapi urgensi tantangan saat ini mengharuskan kita bertindak sekarang,” kata Sugiono.
Ia menyebut penguatan kapasitas bersama dalam menghadapi krisis sebagai salah satu langkah yang perlu dilakukan. Sistem multilateral harus mampu merespons krisis global dan situasi kemanusiaan secara efektif serta menjaga perdamaian, pembangunan, dan kerja sama.
Baca juga: Menlu Sugiono Tekankan Peran Global South dalam Masa Depan Multilateralisme