10 Orang Terkaya di Asia Versi Forbes, Hartanya Capai 1 Kuadriliun Rupiah

Mukesh Ambani dan Gautam Adani. Foto: Dok Forbes/Kolase dibuat AI.

10 Orang Terkaya di Asia Versi Forbes, Hartanya Capai 1 Kuadriliun Rupiah

22 September 2026 12:05

Jakarta: Forbes kembali merilis data kekayaan para miliarder dunia pada September 2026. Perubahan harga saham dan nilai kepemilikan perusahaan turut memengaruhi posisi para miliarder dalam daftar tersebut.

Jajaran pengusaha ternama dari India, Tiongkok, Jepang, dan Hong Kong masuk dalam daftar teratas dengan kekayaan paling tinggi mencapai 86 miliar.

Forbes mencatat kekayaan para miliarder secara realtime, sehingga angka yang ditampilkan mencerminkan estimasi nilai kekayaan berdasarkan kondisi pasar saat data tersebut diperbarui. 

Nilai kekayaan tersebut bersifat dinamis karena dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham, nilai kepemilikan perusahaan, serta perubahan nilai aset lainnya.

Berikut ini orang terkaya di Asia versi Forbes pada September 2026:

1. Mukesh Ambani

Mukesh Ambani merupakan Chairman dan Managing Director Reliance Industries yang didirikan oleh ayahnya, Dhirubhai Ambani, seorang pedagang benang, pada 1966. 

Perusahaan tersebut awalnya hanya perusahaan kecil yang bergerak di bidang tekstil dan terus berkembang hingga sekarang memiliki bisnis yang bergerak dalam bidang petrokimia, minyak dan gas, telekomunikasi, ritel, media, serta layanan keuangan.

Setelah ayahnya meninggal pada 2002, Ambani dan adiknya, Anil, membagi kerajaan bisnis keluarga tersebut.

Dalam Forbes kekayaan bersih Ambani tercatat sebesar USD86,3 miliar atau Rp1.530,96 triliun per 14 September 2026 dan menempatkannya di peringkat ke-23 orang terkaya di dunia.

Gautam Adani: Dok Forbes.

2. Gautam Adani

Gautam Adani merupakan pendiri Adani Group, konglomerasi India yang memiliki bisnis di berbagai sektor, termasuk infrastruktur, pelabuhan, energi, logistik, dan bandara.

Adani Group, yang didirikan pada 1988 sebagai perusahaan perdagangan komoditas, berkembang melalui sejumlah akuisisi serta dengan dukungan dari Perdana Menteri India Narendra Modi.

Adani merupakan operator bandara terbesar di India dan juga mengendalikan Mundra Port, pelabuhan terbesar di India yang berada di negara bagian asalnya, Gujarat.

Pada Januari 2023, perusahaan asal Amerika Serikat, Hindenburg Research, menuduh Adani dan perusahaan-perusahaannya melakukan penipuan keuangan serta manipulasi pasar saham. Adani Group membantah tuduhan tersebut.

Saham Adani Group yang sempat anjlok setelah laporan Hindenburg kemudian mengalami pemulihan yang signifikan setelah Mahkamah Agung India memutuskan perkara yang menguntungkan kelompok usaha tersebut setahun kemudian.

Pada 14 September 2026 kekayaannya tercatat sekitar USD85 miliar atau sekitar Rp1.507,90 trilliun. Forbes menyebut Adani sebagai salah satu dari tiga orang terkaya di Asia bersama Mukesh Ambani dan Zhang Yiming.

3. Zhang Yiming

Zhang Yiming merupakan salah satu pendiri ByteDance, perusahaan teknologi yang menaungi TikTok. Ia mendirikan ByteDance pada 2012 dan kemudian mengembangkan perusahaan tersebut menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Tiongkok.

Forbes mencatat kekayaan Zhang Yiming mengalami kenaikan signifikan 2026sebesar USD84 miliar atau sekitar Rp1.490,16 Triliun pada 15 September 2026 dan menempatkan Yiming  pada posisi ke-25 dalam daftar orang terkaya dunia.

Sebelumnya kekayaan Zhang Yiming pada tahun 2025 mencapai sebesar USD 69 miliar sehingga Zhang Yiming tercatat dalam peringkat 100 orang terkaya di China.

Masayoshi Son. Dok Forbes.

4. Masayoshi Son

Masayoshi Son merupakan pendiri sekaligus CEO SoftBank Group. SoftBank juga telah melakukan investasi lain yang berkaitan dengan AI seiring Son mengejar tujuan menciptakan artificial superintelligence (ASI), atau AI yang menurutnya memiliki kecerdasan '10.000 kali lebih tinggi dibandingkan kecerdasan manusia.'

SoftBank baru-baru ini meningkatkan kepemilikannya di Nvidia serta membeli saham senilai ratusan juta dolar AS di Oracle dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Pada 14 September 2026, saham SoftBank mengalami penurunan lebih dari 10 persen. Kondisi tersebut membuat kekayaan Son turun melebihi US$8 miliar menjadi sekitar USD72,5 1.490,16 Triliun. Peringkat Son pun turun hingga menempati peringkat ke-29 orang terkaya di dunia dan posisi keempat di Asia.

5. Tadashi Yanai

Tadashi Yanai merupakan pendiri dan pemimpin Fast Retailing, perusahaan induk merek pakaian yang terkenal di Indonesia, yakni Uniqlo. Selain Uniqlo, Fast Retailing juga menaungi sejumlah merek seperti GU, Theory, dan Helmut Lang.

Perusahaan Uniqlo telah memiliki 2.500 toko dan tersebar ke 25 negara di dunia meliputi Indonesia.

Forbes mencatat kekayaan Yanai dan keluarganya sebesar US$60,3 miliar atau Rp1.064,40 triliun pada 10 September 2026, dengan posisi ke-33 dunia. 

Yanai berambisi agar merek pakaiannya bisa menjadi perusahaan retail terbesar di dunia mengalahkan H&M dan Inditex.

6. Zhong Shanshan

Zhong Shanshan merupakan pendiri dan Chairman Nongfu Spring, perusahaan yang dikenal sebagai produsen air minum kemasan di Tiongkok. Ia juga memiliki kepentingan bisnis di Wantai Biological.

Meskipun merupakan seorang pengusaha, Zhong yang lahir di Hangzhou, putus sekolah sejak sekolah dasar selama masa Revolusi Kebudayaan China yang penuh gejolak.
Ia kemudian bekerja sebagai buruh konstruksi, reporter surat kabar, dan agen penjualan minuman sebelum akhirnya mendirikan bisnisnya sendiri.

Zhong juga mengendalikan Wantai Biological, perusahaan yang memproduksi alat tes diagnostik cepat untuk penyakit menular, termasuk Covid-19.

Per 14 September 2026, Forbes mencatat kekayaan Zhong Shanshan sebesar USD58,6 miliar atau Rp1.039,56 Triliun dan menempatkannya di peringkat ke-34 dunia.

7. Robin Zeng

Robin Zeng merupakan pendiri, Chairman, dan CEO CATL, salah satu produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia. CATL memasok baterai kepada sejumlah produsen kendaraan, termasuk BMW, Geely, dan Tesla.

Meskipun beberapa kali mengalami penundaan akibat kekhawatiran geopolitik, pabrik baterai Ford di Michigan yang menggunakan teknologi berlisensi dari CATL telah selesai dibangun pada Juni 2026.

Forbes mencatat kekayaan Zeng sebesar USD51,6 miliar atau Rp1.039,56 Triliun pada 15 September 2026 dan menempatkannya di peringkat ke-35 dunia.

8. Li Ka-shing

Li Ka-Shing dikenal sebagai salah satu pebisnis yang berpengaruh di Asia. Li Ka-shing merupakan pengusaha Hong Kong yang membangun bisnis di berbagai sektor.

Li mendirikan Cheung Kong Plastics, yang namanya diambil dari Sungai Yangtze, pada 1950 saat berusia 21 tahun. Saat itu, ia menggunakan tabungan sebesar 6.500 dolar AS serta pinjaman dari kerabat sebagai modal awal.

Li sempat menjabat sebagai Chairman CK Hutchison Holdings dan kini menjadi senior advisor.

Forbes mencatat kekayaan Li Ka-shing sebesar US$49,9 miliar atau Rp915,38 triliun pada 10 September 2026 dengan posisi ke-38 dunia. Li Ka Shing Foundation yang didirikannya telah menyalurkan donasi lebih dari 3,8 miliar dolar AS, dengan lebih dari 80 persen dana tersebut dialokasikan untuk kawasan Greater China.

9. Ma Huateng

Ma Huateng, yang juga dikenal sebagai Pony Ma, merupakan Chairman dan CEO Tencent Holdings. Perusahaan tersebut dikenal melalui berbagai bisnis teknologi, termasuk layanan pesan WeChat dan industri gim seperti gim pertempuran Honor of Kings.

Tencent juga merupakan salah satu penerbit gim terbesar di dunia dan telah mengakuisisi saham di perusahaan gim asal Amerika Serikat, Epic Games.

Forbes mencatat kekayaan Ma Huateng sebesar US$46,5 miliar Rp 824,91 Triliun pada 14 September 2026 dan menempatkannya di peringkat ke-42 dunia.

Ma terus meningkatkan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) untuk membuat keluarga model Hunyuan milik Tencent lebih unggul di tengah persaingan ketat di dalam negeri. Pada 2026, ia merekrut mantan peneliti OpenAI, Yao Shunyu, untuk memimpin pengembangan AI di Tencent

10. Liang Wenfeng

Liang Wenfeng merupakan pendiri perusahaan kecerdasan buatan DeepSeek sekaligus pendiri perusahaan perdagangan kuantitatif High-Flyer Capital Management.

Deepseek menjadi sorotan dunia ketika merilis model R1 pada 2025 dan mengklaim mampu menandingi kinerja ChatGPT milik OpenAI dengan biaya yang lebih rendah.

Pengusaha tersebut menggunakan teknik matematika dan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun High-Flyer hingga menjadi salah satu perusahaan perdagangan kuantitatif terbesar dan berkinerja terbaik di China.

Forbes mencatat kekayaan Liang Wenfeng sebesar US$39,9 miliar atau Rp707,83 triliun pada 11 September 2026 dan menempatkannya di peringkat ke-50 orang terkaya di dunia.

DeepSeek memperoleh pendanaan sebesar 7,4 miliar dolar AS dalam putaran pendanaan pada Juni 2026, yang membuat nilai perusahaan tersebut mencapai 52 miliar dolar AS.

Dengan kondisi pasar yang dinamis, nilai kekayaan para pengusaha dapat berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan harga saham dan perkembangan perusahaan yang mereka kendalikan.

(Yaumil Tianri Rahmi)

(Arga Sumantri)