Ilustrasi. Foto: Freepik.
'Digempur' Jepang & Eropa, Industri Ini Bakal Kuasai Pasar Nasional
Ade Hapsari Lestarini • 27 November 2025 20:33
Jakarta: Ketatnya persaingan peralatan rumah tangga, segmen kompor kaca menjadi salah satu arena paling sengit. Produk ini bukan lagi sekadar alat memasak, tetapi juga simbol gaya hidup modern, mewah, elegan, dan fungsional. Selama ini, pasar produk tersebut didominasi merek-merek Jepang dan Eropa dan mulai menarik perhatian pemain lokal yang ingin merebut hati konsumen dengan formula baru: produk berkualitas premium dengan harga terjangkau.
Salah satu pemain lokal yang serius menggarap segmen ini adalah PT Niko Elektronik Indonesia. Sejak 2019, Niko Elektronik memutuskan untuk menjadikan kompor kaca sebagai produk unggulan. Langkah ini bukan tanpa riset. Dari hasil serangkaian Forum Group Discussion (FGD), perusahaan menemukan fakta menarik, banyak konsumen Indonesia mendambakan kompor kaca karena tampilan mewahnya, namun terkendala harga tinggi dan pilihan produk yang terbatas.
Menurut Managing Director Niko Elektronik Indonesia, Siswo Handoyo, dari sisi pasar kompor kaca masih sangat besar dan seksi, karena belum semua rumah tangga di Indonesia menggunakan kompor gas, dan belum semua bisa memiliki kompor kaca dengan harga yang terjangkau. "Ini yang membuat Niko Elektronik semakin optmisitis," kata Siswo, dalam keterangan tertulis, Kamis, 27 November 2025.
Dengan positioning affordable luxury, perusahaan menargetkan konsumen kelas menengah. Semua kompor kaca Niko diproduksi di pabrik milik sendiri di kawasan Banjardowo, Semarang, yang menyerap lebih dari 1.000 tenaga kerja lokal. Produk ini mengusung kaca tempered setebal 7-8 mm yang tahan panas hingga 180 derajat dan mampu menahan beban hingga 100 kg, standar yang sekelas dengan produk global.
Membangun brand tak sekadar mengandalkan produk
Adapun untuk sektor usaha, Niko Elektronik bahkan memproduksi kompor portable, grill, dan kompor cor. Totalnya, lebih dari 30 varian sudah beredar di pasaran dengan harga mulai Rp300 ribuan hingga di bawah Rp2 juta. Diakui Siswo Handoyo dalam membangun brand, Niko Elektronik tak sekadar mengandalkan produk. Strategi komunikasinya sangat agresif dan modern. Lewat kampanye 360° branding, Niko Elektronik tampil di berbagai kanal ATL dan BTL, memperkuat kehadirannya di pasar offline, online, dan modern market.
"Dengan hadir di dapur-dapur inspiratif di televisi, kami ingin menunjukkan bahwa produk lokal juga bisa tampil elegan dan tangguh di hadapan koki profesional," kata dia.
Direktur Marketing Niko Elektronik, Tjandra Lianto menambahkan dari sisi layanan, Niko Elektronik mengedepankan after-sales service yang kuat, dengan garansi kaca seumur hidup, call center nasional, serta layanan teknisi ke rumah pelanggan di lebih dari 25 kota di Indonesia. Meski kondisi ekonomi masih menantang dan daya beli belum sepenuhnya pulih, penjualan kompor kaca Niko tahun ini tetap stabil dibanding tahun sebelumnya. Kanal distribusi offline masih mendominasi 70 persen, sementara online berkontribusi 30 persen dengan tren pertumbuhan positif.
Sejak 2022 hingga 2024, penjualan Niko Elektronik menembus posisi tiga besar nasional dan menjadi peringkat pertama untuk merek lokal di kategori kompor kaca, berdasarkan riset pihak ketiga terhadap penjualan online. Sebagai merek lokal yang terus berinovasi, Niko Elektronik memahami kebutuhan rumah tangga setiap lini produknya dirancang untuk memberi kemudahan sekaligus kenyamanan.
"Dengan total produksi 100 ribu kompor per bulan, kontribusi penjualan kompor sekitar 70 persen, sisa 30 persen dari produk elektronik lokal lainnya. Kami percaya, kekuatan brand lokal bukan hanya di harga, tapi di pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia," ujar Tjandra.
Dia mengatakan, dengan inovasi yang terus berkembang, Niko Elektronik membuktikan diri sebagai merek lokal yang mampu bersaing di pasar nasional, menyajikan produk yang praktis, modern, dan dapat diandalkan di setiap sudut kehidupan. Dengan kombinasi produk inovatif, harga kompetitif, dan layanan premium, Niko Elektronik sedang membuktikan keunggulan industri lokal bisa menyala lebih terang, bahkan di tengah sengitnya kompetisi global di dapur modern Indonesia.