Ilustrasi. Foto: Magnific.
Indonesia Jadi Salah Satu Pasar Investasi Emas Terkuat di Tengah Koreksi Harga Global
Ade Hapsari Lestarini • 31 July 2026 15:43
Jakarta: Indonesia mempertahankan posisinya sebagai salah satu pasar investasi emas terkuat di dunia pada kuartal II-2026, meski harga emas global mulai melandai dari level tertingginya.
Laporan Gold Demand Trends Q2 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) menunjukkan permintaan emas batangan dan koin di Indonesia meningkat 40 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 15 ton. Kinerja tersebut menjadi salah satu yang tertinggi secara global.
Peningkatan permintaan dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian prospek ekonomi domestik yang mendorong masyarakat menjadikan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Di sisi lain, pemerintah juga telah meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Kegiatan Usaha dan Ekosistem Bulion, yang dinilai memperkuat fondasi pengembangan industri emas nasional.
Secara global, WGC mencatat total permintaan emas pada kuartal II-2026 relatif stabil di level 1.269 ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, sepanjang semester I-2026, permintaan emas meningkat dua persen menjadi sekitar 2.522 ton dengan nilai mencapai USD380 miliar.
Investasi melalui exchange traded fund (ETF), emas batangan, dan koin tercatat sebesar 262 ton pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya akibat koreksi harga emas. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi arus keluar (outflow) ETF emas fisik sebesar 45 ton.
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang semester pertama, ETF emas masih membukukan arus masuk bersih sebesar 18 ton. Sementara investasi emas batangan dan koin hanya turun tiga persen secara tahunan dan masih tumbuh 21 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Permintaan di luar bursa resmi (over the counter/OTC) juga meningkat menjadi 327 ton pada kuartal II, didorong terutama oleh investor di kawasan Asia.

Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council, Shaokai Fan. Foto: dok World Gold Council.
Bank sentral masih agresif membeli emas
WGC juga mencatat bank sentral dan lembaga resmi menambah cadangan emas bersih sebesar 289 ton pada kuartal II-2026, meningkat 62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Survei WGC menunjukkan 45 persen bank sentral berencana meningkatkan kepemilikan emas dalam 12 bulan mendatang, mempertegas posisi emas sebagai aset strategis dalam cadangan devisa.
Sementara itu, permintaan perhiasan global turun 17 persen akibat harga emas yang masih tinggi. Konsumen cenderung membeli perhiasan dengan bobot lebih ringan untuk menekan pengeluaran.
Di Indonesia, permintaan perhiasan juga turun 10 persen secara tahunan dan melanjutkan tren penurunan selama 13 kuartal berturut-turut. Meski volume menurun, nilai pasar perhiasan global justru meningkat 22 persen menjadi USD86 miliar sepanjang semester pertama 2026.
Dari sisi pasokan, produksi emas global relatif stabil di level 1.269 ton. Produksi tambang naik 2 persen menjadi 966 ton berkat tambahan produksi dari Kanada dan Chile, sedangkan pasokan dari daur ulang turun 6 persen.
Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, mengatakan Indonesia kembali menjadi salah satu pasar investasi emas dengan pertumbuhan terkuat di dunia.
"Permintaan emas batangan dan koin melonjak 40 persen meskipun kenaikan harga emas mulai melandai. Hal ini menunjukkan semakin banyak investor Indonesia yang memandang emas sebagai aset strategis untuk jangka panjang, terutama di tengah pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi domestik," ujar Shaokai.
Ia menambahkan, peluncuran roadmap ekosistem bulion Indonesia akan memperluas partisipasi investor sekaligus membuka akses terhadap beragam produk investasi emas.
Sementara itu, Senior Markets Analyst World Gold Council Louise Street menilai investasi masih akan menjadi motor utama permintaan emas pada paruh kedua 2026.
"Bank sentral diperkirakan tetap aktif membeli emas meski lajunya sedikit melambat. Sementara itu, tingginya harga emas masih akan membatasi permintaan perhiasan, sedangkan investasi diperkirakan tetap kuat, terutama dari pasar Asia," ujarnya.