Ilustrasi Pexels
Gerbong Wanita di KRL Sudah Sesuai, Menteri PPPA Minta Maaf Atas Usul Pemindahan
Muhamad Marup • 30 April 2026 13:27
Jakarta: Susunan gerbong khusus wanita di Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line sudah sesuai. Posisi gerbong sempat menjadi sorotan usai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, mengusulkan ide agar posisi gerbong khusus wanita dipindah ke bagian tengah usai kecelakaan kereta di Bekasi Timur, Senin, 27 April 2026.
Rektor Universitas Parahyangan (Unpar) sekaligus pakar transportasi publik, Tri Basuki Joewono, menyebut posisi tersebut sudah benar. Menurutnya, pengalaman di berbagai negara dan berbagai studi menunjukkan bahwa penempatan gerbong kereta di awal dan akhir rangkaian memiliki sejumlah alasan.
"Jadi bukan karena selera," ujar Tri, kepada Metrotvnews.com.
Baca Juga :
Alasan Posisi Gerbong Sudah Sesuai
Tri mengungkapkan, ada empat alasan posisi gerbong saat ini sudah sesuai, termasuk posisi gerbong wanita di posisi paling depan dan belakang. Berikut ini penjelasannya:Keamanan
Pengalaman dan studi menunjukkan bahwa perempuan, ibu hamil, lanjut usia, dan anak-anak menjadi pengguna angkutan yang rentan. Hal ini memerlukan perhatian lebih, sehingga penempatan pada gerbong khusus di bagian awal kereta (atau akhir) ditujukan memberikan keamanan yang lebih.
Dekat Petugas
Penempatan pada gerbong pertama, ditujukan agar gerbong ini mendapat perhatian lebih dan dengan mudah diberi bantuan saat terjadi kebutuhan, karena dekat dengan petugas. Bila jauh dari petugas, maka saat diperlukan akan kesulitan untuk membantu.
Crowd Management
Wanita akan lebih terbantu untuk tidak terdesak di tengah kerumuman pada posisi gerbong-gerbong di tengah rangkaian. Bila diletakkan di awal atau akhir, maka sebaran itu akan terjadi sehingga para wanita, ibu hamil, lanjut usia, bisa terhindar dari desakan berlebih di tengah rangkaian.
Kemudahan Akses
Penempatan gerbong khusus di awal atau akhir, pada umumnya juga berguna untuk memberi jarak yang lebih dekat ke jalur-jalur masuk-keluar dari platform menuju pintu atau tangga keluar masuk.
"Isu kecelakaan dan keselamatan, tidak ditangani dengan memindahkan gerbong khusus wanita. Manajemen operasi kereta menjadi isu penting dalam mengelola risiko kecelakaan dan usaha meningkatkan keselamatan," terang Tri.
Menteri PPPA Minta Maaf
.jpeg)
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi. Foto: tangkapan layar Instagram Kemen PPPA
Usai ide pemindahan posisi gerbong wanita menuai kritik, Menteri PPPA, Arifatul meminta maaf. Ia menyadari usulan tersebut kurang tepat dan sama sekali tidak bermaksud mengabaikan keselamatan penumpang lainnya.
"Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," ujar Arifatul dalam keterangan videonya, Rabu malam, 29 April 2026.
Ia menernagkan, dalam situasi duka seperti kecelakaan di Bekasi Timur yang menjadi fokus utama adalah keselamatan penanganan korban serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak. Keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu baik perempuan maupun laki-laki
"Saat ini prioritas utama pemerintah adalah memastikan penanganan terbaik bagi seluruh korban baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka," terangnya.
Arifatul melanjutkan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, seluruh proses penanganan dilakukan secara cepat adil dan menyeluruh. Kementerian PPPA hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi ini tidak terabaikan.
"Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis perlindungan serta dukungan yang diperlukan khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini," terangnya.