Peringatan Hari Buruh di Monas. Foto: YouTube Setpres.
Respons Buruh soal MBG Dinilai Tak Bisa Dibaca sebagai Penolakan
M Sholahadhin Azhar • 2 May 2026 17:09
Jakarta: Pengamat politik Ujang Komarudin merespons langkah Presiden Prabowo Subianto. Yakni, saat menanyakan manfaat program makan bergizi gratis (MBG), kepada buruh saat peringatan Hari Buruh Internasional di Monas, Jumat, 1 Mei 2026.
Menurut Ujang, respons buruh merupakan sinyal positif bagi perbaikan kualitas kebijakan publik. Sebab, hal itu terjadi dalam, dialog langsung antara Kepala Negara dan kelompok masyarakat.
“Pendekatan ini dapat mempersempit jarak antara pembuat kebijakan dan penerima manfaat. Respons beragam dari masyarakat merupakan masukan penting bagi pemerintah,” ujar Ujang dalam keterangan tertulis, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ujang melihat hal ini sangat penting. Karena, dialog tersebut dapat menangkap respons riil atas pelaksanaan program pemerintah di lapangan.
Founder Literasi Politik Indonesia menganalisis perbincangan publik yang muncul setelah momen tersebut. Sebaiknya, tidak dibaca semata-mata sebagai penolakan terhadap program MBG.
“Menuntut kesejahteraan buruh dan mengawal MBG adalah dua perjuangan yang bisa berjalan beriringan, jadi tidak perlu dipertentangkan, apalagi muncul narasi penolakan program tersebut," kata Ujang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan berbagai dampak positif dari program tersebut. Antara lain, mendorong sektor pertanian melalui penyerapan hasil produksi, membantu stabilisasi harga produk tani, dan menurunkan beban pengeluaran rumah tangga.

Founder Literasi Politik Indonesia Ujang Komarudin. Foto: Istimewa
Kemudian, meningkatkan konsumsi gizi anak, memberikan kepastian pendapatan bagi petani, serta berkontribusi terhadap penurunan angka pengangguran.
“Intinya, program ini punya tujuan sosial yang besar, dan dampaknya kini sudah dirasakan oleh petani, pelaku umkm dan masyarkat lainnya, untuk itu mari kita kawal bersama,” ujar Ujang.