BMKG Prediksi Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah 25–31 Agustus 2026

Ilustrasi: Freepik

BMKG Prediksi Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah 25–31 Agustus 2026

Riza Aslam Khaeron • 26 August 2026 13:43

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang pada 25–31 Agustus 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau yang semakin meluas di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan cuaca sepekan yang diperbarui pada 24 Agustus 2026, BMKG menyebut kondisi Indonesia secara umum masih cenderung kering. Pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menjadi faktor yang mendukung rendahnya curah hujan di banyak wilayah.
 

Hujan Masih Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah


Ilustrasi musim hujan. Foto: MI/Susanto.

Meskipun kemarau mendominasi, kondisi atmosfer di sejumlah wilayah masih memungkinkan terbentuknya awan hujan.

BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat sebelumnya terjadi di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada periode 20–23 Agustus 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Barat sebesar 125 mm per hari, disusul Sumatra Utara 97 mm per hari dan Aceh 88 mm per hari.

Untuk periode 25–27 Agustus 2026, cuaca Indonesia secara umum diprediksi didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
 

Daftar Wilayah yang Berpotensi Angin Kencang

Pada 25–27 Agustus 2026, angin kencang berpotensi terjadi di Banten, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Sementara itu, memasuki 28–31 Agustus 2026, potensi angin kencang diprakirakan terdapat di Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
 

Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Berpotensi Terjadi

Pada periode 28–31 Agustus, BMKG memperkirakan cuaca Indonesia akan bervariasi dari cerah berawan hingga hujan lebat. Peningkatan hujan dengan intensitas sedang masih perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. BMKG menetapkan Papua Selatan dalam kategori siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada periode tersebut.
 

Mengapa Hujan Masih Bisa Terjadi Saat Kemarau?

BMKG menjelaskan bahwa kondisi kering akibat El Niño sangat kuat dan IOD positif tidak sepenuhnya menghilangkan peluang hujan. Sejumlah dinamika atmosfer regional masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal dan sporadis.

Salah satunya adalah aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprakirakan masih aktif di sekitar Samudra Pasifik utara Papua, Maluku Utara, Laut Sulawesi, Sulawesi Utara, hingga pesisir utara Papua Barat Daya.

Keberadaan Bibit Siklon Tropis 97W di Samudra Pasifik utara Papua juga turut mendukung pembentukan daerah konvergensi dan konfluensi di sekitar Papua hingga Laut Filipina. Kondisi tersebut dapat meningkatkan pengumpulan dan pengangkatan massa udara sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif.

Selain itu, daerah konvergensi diprakirakan terbentuk di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Labilitas atmosfer yang kuat di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, serta Papua bagian tengah dan pegunungan turut meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.
 

Kemarau Meluas, Risiko Karhutla Meningkat

Di sisi lain, BMKG mencatat musim kemarau semakin meluas. Berdasarkan analisis Dasarian II Agustus 2026, sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim (ZOM) telah mengalami kondisi kemarau.

Sebagian besar wilayah tersebut mengalami curah hujan rendah dengan sifat hujan di bawah normal. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan sekaligus kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pantauan satelit Himawari-9 pada 23 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 299 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatra, 383 titik di Kalimantan, serta 186 titik di Papua dan Maluku. Sebaran asap juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
 

BMKG Minta Masyarakat Waspadai Cuaca Buruk

BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai hujan yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang meskipun sebagian besar wilayah sedang memasuki musim kemarau.

Cuaca buruk tersebut dapat menyebabkan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir. Masyarakat disarankan tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh ketika hujan disertai angin kencang terjadi.

Di tengah kondisi kemarau, masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. BMKG mengingatkan agar masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan.


(Siti Nahdia Usman)

(Riza Aslam Khaeron)