Pemkot Pekalongan Cegah Penularan TBC Lewat Program ACF

Ilustrasi - Petugas kesehatan menunjukkan hasil rongtsen toraks paru untuk deteksi tuberkulosis (TBC). (ANTARA FOTO/Yudi/rwa/pri.)

Pemkot Pekalongan Cegah Penularan TBC Lewat Program ACF

Silvana Febiari • 23 July 2026 14:42

Pekalongan: Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Jawa Tengah, mempercepat deteksi dini dan pengobatan tuberkulosis (TBC) untuk mencegah penularan. Selama ini, penemuan kasus TBC masih dilakukan secara pasif, yakni pasien yang mengalami gejala datang langsung ke fasilitas kesehatan.

"Saat ini terdapat 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan. Dari kasus tersebut kami akan melakukan penelusuran kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya dengan target sekitar 1.350 orang dapat menjalani skrining," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan Puji Winarti, dilansir dari Antara, Kamis, 23 Juli 2026. 
 


Program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus TBC secara aktif dilakukan untuk mempercepat deteksi dini di masyarakat. Program ini berlangsung sejak diluncurkan pada Juli hingga September 2026 dengan melibatkan petugas puskesmas dan kader kesehatan.

Melalui ACF, petugas akan mendatangi lingkungan sekitar pasien TBC untuk memeriksa orang-orang yang memiliki kontak erat. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk lebih dari dua minggu, demam terutama pada malam hari, dan penurunan nafsu makan.

"Penularan penyakit ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti sanitasi lingkungan yang kurang baik maupun kontak dengan penderita TBC yang belum menyelesaikan pengobatan," ungkap Puji.


Ilustrasi TBC. DOK Medcom.id


Menurut dia, pengobatan TBC harus dijalani hingga tuntas minimal selama enam bulan. Pada kondisi tertentu, terapi dapat diperpanjang hingga satu hingga dua tahun sesuai tingkat keparahan penyakit.

Pihaknya melibatkan kader Mentari Sehat Indonesia untuk mendampingi petugas puskesmas dalam penelusuran kasus di lapangan.

"Kami mengingatkan bahwa TBC dapat menyerang semua kelompok usia mulai dari bayi hingga lanjut usia, sehingga masyarakat yang mengalami gejala atau memiliki kontak erat dengan penderita diimbau segera mengikuti pemeriksaan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin," ujar Puji.

(Silvana Febiari)