Jalan Tol Jagorawi. (Istimewa)
Transformasi Bisnis dan Fundamental Topang Prospek Kinerja Jasa Marga
Lukman Diah Sari • 18 September 2026 10:11
Jakarta: Solidnya fundamental bisnis serta peluang optimalisasi aset dan pengembangan proyek strategis dinilai menopang prospek kinerja PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) di masa depan.
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, mengatakan ada sejumlah aspek yang membuat prospek kinerja JSMR menarik di mata investor. Indikator penting penentu evaluasi kinerja JSMR mencakup kinerja operasional, perkembangan traffic, kontribusi ruas baru, struktur biaya dan pendanaan, serta perkembangan proyek strategis.
Pada saat yang sama, agenda transformasi BUMN dan optimalisasi portofolio oleh Danantara menjadi faktor strategis yang memperkaya investment story JSMR dalam jangka menengah. Menurut Reza, prospek JSMR tak hanya ditentukan oleh pencapaian laba bersih, tetapi juga kemampuan perseroan menjaga core business lewat pertumbuhan bisnis inti jalan tol.
“Ada sejumlah aspek. Dengan kombinasi antara fundamental bisnis jalan tol, pengembangan proyek strategis, dan peluang optimalisasi portofolio dalam ekosistem BUMN, JSMR berpotensi mempertahankan daya tariknya di tengah dinamika sektor infrastruktur dan pasar modal Indonesia,” ujar Reza, Jumat, 18 September 2026.
EBITDA tercatat Rp6,99 triliun atau tumbuh 8,1 persen (yoy) dengan margin EBITDA tumbuh menjadi 67,8 persen. Di saat bersamaan, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,91 triliun, tumbuh 2,0 persen (yoy).
Sementara itu, Gearing Ratio tercatat pada level 1,2 kali dengan Interest Coverage Ratio (ICR) tumbuh menjadi 3,9 kali. Hal ini menunjukkan kapasitas perseroan untuk menjaga kewajiban finansial sekaligus mempertahankan ruang untuk investasi dan pengembangan bisnis.
Mengingat karakteristik bisnis jalan tol membutuhkan investasi jangka panjang, kemampuan perseroan menghasilkan EBITDA dan arus kas menjadi faktor penting dalam menilai kualitas pertumbuhan perusahaan. Bagi investor, ekspansi jaringan tak hanya dilihat dari bertambahnya panjang jalan tol yang dikelola, tetapi juga dari kemampuan setiap aset menghasilkan traffic, pendapatan, EBITDA, serta imbal hasil modal yang diinvestasikan.
“Selain kinerja operasional, pengembangan jaringan jalan tol menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendukung pertumbuhan JSMR dalam jangka menengah. Karena itu, optimalisasi ruas yang telah beroperasi maupun percepatan kontribusi ruas baru menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan JSMR,” tuturnya.

Kantor Jasa Marga. (Dok Jasa Marga)
Saat ini, Jasa Marga merupakan market leader industri jalan tol di Indonesia dari sisi pangsa pasar, jaringan operasional, maupun operator. Dari sisi pangsa pasar, JSMR menguasai sekitar 42 persen pasar jalan tol komersial beroperasi di Indonesia.
Dari sisi jaringan operasional, perusahaan yang dipimpin Rivan A. Purwantono sebagai direktur utama ini mengelola sekitar 1.294 km jalan tol operasional dan sekitar 1.736 km total konsesi. Dari 36 konsesi tol yang dikelola, 29 di antaranya telah beroperasi penuh.
Adapun tiga ruas telah beroperasi sebagian, yakni Bogor Ring Road sepanjang 13,30 km, Solo-Yogya 96,57 km, serta Ngawi-Kertosono-Kediri 114,9 km, dan tiga ruas sisanya belum beroperasi.
Ke depan, Reza menegaskan prospek JSMR tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar portofolio jalan tol yang dimiliki atau dikelola. Investor akan semakin memperhatikan kualitas portofolio, produktivitas aset, kemampuan menghasilkan cash flow, efisiensi pendanaan, serta return atas investasi.