Kabut Asap Selimuti New Delhi India, Polusi Udara Capai Level Berbahaya

Kabut asap menyelimuti kota New Delhi di India. (Anadolu Agency)

Kabut Asap Selimuti New Delhi India, Polusi Udara Capai Level Berbahaya

Willy Haryono • 15 December 2025 18:04

New Delhi: Kabut asap beracun tebal menyelimuti ibu kota India, New Delhi, pada Senin, 15 Desember 2025, yang mendorong tingkat polusi udara ke level paling berbahaya dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini mengganggu transportasi, memicu lonjakan pasien di rumah sakit, serta memaksa pemerintah memberlakukan langkah pembatasan paling ketat.

Dilansir dari TRT World, sedikitnya 40 penerbangan dibatalkan dan puluhan lainnya mengalami penundaan. Lebih dari 50 kereta yang tiba dan berangkat dari New Delhi juga terlambat hingga beberapa jam, menurut otoritas setempat.

Pakar kesehatan memperingatkan warga untuk menghindari seluruh aktivitas luar ruang setelah rumah sakit melaporkan peningkatan jumlah pasien dengan gangguan pernapasan dan iritasi mata.

“New Delhi saat ini seperti ruang gas. Pembersih udara hanya sedikit membantu, jadi sudah saatnya pemerintah menghadirkan solusi permanen,” ujar Naresh Dang, dokter di Max Healthcare.

Gangguan Kesehatan Serius

Tingkat polusi udara di Delhi telah berada pada kategori “parah” selama dua hari terakhir, menurut klasifikasi pemerintah federal. Level ini dapat memicu gangguan pernapasan pada orang sehat dan berdampak serius bagi penderita penyakit jantung atau paru-paru.

Pada Minggu, indeks kualitas udara resmi tercatat melampaui 450 di sejumlah stasiun pemantauan, naik dari 430 pada Sabtu dan menjadi yang tertinggi sejauh musim dingin ini, berdasarkan data Central Pollution Control Board. Pada Senin, indeks berada di angka 449. Sebagai perbandingan, indeks di bawah 50 dikategorikan baik.

Dalam kondisi polusi berat, pemerintah mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker N95 saat harus keluar rumah. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular diminta lebih waspada.

“Saya belum pernah melihat polusi separah ini. Tahun lalu saat ke Delhi sudah tercemar, tapi tahun ini jauh lebih buruk. Saya bisa merasakan asap saat bernapas,” kata Tiam Patel, seorang wisatawan.

Untuk menekan polusi, otoritas India melarang aktivitas konstruksi serta membatasi penggunaan generator diesel dan kendaraan bermotor. Penyemprot air dikerahkan untuk mengurangi kabut asap, sementara sekolah dan perkantoran mengizinkan banyak siswa dan pekerja tetap di rumah.

Namun, para pegiat lingkungan menilai krisis polusi udara India membutuhkan solusi jangka panjang. Wilayah New Delhi dan sekitarnya, yang dihuni lebih dari 30 juta orang, secara rutin masuk daftar kawasan dengan polusi terburuk di dunia. India memiliki enam dari 10 kota paling tercemar di dunia, dan New Delhi menjadi ibu kota nasional dengan polusi tertinggi, menurut laporan basis data kualitas udara IQAir yang berbasis di Swiss awal tahun ini.

Polusi Udara di India

Kualitas udara di New Delhi memburuk setiap musim dingin akibat pembakaran sisa tanaman oleh petani di negara bagian sekitar. Suhu dingin menjebak asap di udara, yang kemudian bercampur dengan polusi dari kendaraan, aktivitas konstruksi, dan emisi industri. Pada periode tertentu, tingkat polusi bahkan mencapai 20 kali lipat di atas ambang aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, aktivis lingkungan yang berbasis di Delhi, Vimlendu Jha, menegaskan bahwa udara ibu kota India sebenarnya tidak sehat sepanjang tahun. “Udara Delhi tidak pernah benar-benar bersih. Kita hanya melihatnya secara kasat mata dari Oktober hingga Desember, padahal kenyataannya polusi terjadi sepanjang tahun,” ujarnya.

Awal bulan ini, warga New Delhi menggelar aksi protes untuk mengekspresikan kekecewaan dan kemarahan atas kegagalan pemerintah mengatasi polusi udara.

Sebuah studi tahun lalu oleh jurnal medis The Lancet mengaitkan paparan jangka panjang terhadap polusi udara dengan sekitar 1,5 juta kematian tambahan setiap tahun di India.

“Kematian akibat polusi udara tidak tercatat secara memadai, karena tidak ada mekanisme sistematis untuk menghitungnya,” kata Shweta Narayan, pimpinan kampanye di Global Climate and Health Alliance.

Oktober lalu, otoritas India sempat melakukan eksperimen penyemaian awan di atas New Delhi yang diselimuti kabut asap untuk memicu hujan dan membersihkan udara beracun. Namun, upaya kontroversial tersebut berakhir tanpa turunnya hujan.

Baca juga:  Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara New Delhi di Bawah Batas Aman WHO

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)