Perayaan Bagawi Festival di Raden Inten Beach, Lampung. Metrotvnews.com/Imam Setiawan
Begawi Festival, Ruang Persaudaraan Saibatin dan Pepadun Merawat Budaya Lampung
Imam Setiawan • 11 July 2026 20:25
Lampung Selatan: Sabtu, 11 Juli 2026, Pantai Pasir Putih yang kini dikenal sebagai Radin Inten Beach di Lampung Selatan tak hanya menawarkan hamparan pasir dan debur ombak. Kawasan itu berubah menjadi panggung sakral budaya, tempat dua rumpun adat besar Lampung Saibatin dan Pepadun bertemu dalam satu peristiwa bersejarah.
Irama tabuhan alat musik tradisional mengiringi langkah para penyimbang adat yang mulai memasuki arena. Di sinilah falsafah Sai Bumi Ruwa Jurai satu bumi dua jiwa terwujud nyata dalam semangat persatuan, kekeluargaan, dan gotong royong.
Momentum ini dikemas dalam Begawi Festival, gagasan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) untuk memperkenalkan, merawat, dan melestarikan budaya Lampung, khususnya kepada generasi muda.
Untuk pertama kalinya, prosesi adat Saibatin dan Pepadun digelar bersamaan. Perbedaan tradisi bukan lagi pemisah, melainkan kekayaan yang memperkokoh identitas Lampung.
Radin Inten Beach menjadi saksi dua rumpun adat yang selama ini hidup dengan tradisi masing-masing, kini duduk bersama dalam harmoni dan penghormatan.
Dari Pepadun hadir perwakilan Abung Siwo Mego, Pubian Telu Suku, Mego Pak Tulang Bawang, dan Buay Lima Way Kanan. Sementara Saibatin bertindak sebagai tuan rumah, sejalan dengan lokasi acara di Lampung Selatan yang merupakan wilayah adat mereka.
Ratusan muli dan mekhanai dari berbagai marga se-Lampung tampil memukau dengan pakaian adat lengkap. Kain tapis, siger, sesapur, dan atribut kebesaran adat membentang di sepanjang pantai, menciptakan panorama budaya yang memikat.
Mereka datang dari kedua rumpun adat, berbaris rapi mengikuti setiap prosesi. Kilau kain tapis berpadu dengan biru laut Selat Sunda, menghadirkan pemandangan yang indah sekaligus sarat makna persatuan.
Rangkaian dimulai dengan Manjau simbol silaturahmi dan penghormatan dalam tradisi Saibatin maupun Pepadun. Dilanjutkan dengan turun mandi, ritual penyucian diri dan doa untuk kehidupan yang lebih baik.
Presiden BEM Unila, Aditya Putra Bayu, menyampaikan bahwa Begawi Festival lahir dari tanggung jawab moral mahasiswa menjaga identitas budaya.
"Mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab di bidang akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral menjaga identitas daerahnya. Begawi Festival kami gagas agar masyarakat semakin mengenal adat Saibatin dan Pepadun sebagai warisan budaya yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya," ujarnya, Sabtu, 11 Juli 2026.
Acara dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, dan Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menilai Begawi Festival penting untuk mempererat persatuan dan melestarikan budaya.
"Saibatin dan Pepadun adalah kekayaan budaya yang kita miliki bersama. Kegiatan seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan budaya Lampung kepada masyarakat luas. Pemerintah Provinsi Lampung akan terus mendukung kegiatan yang mengangkat budaya daerah agar tetap hidup dan menjadi kebanggaan generasi mendatang," katanya.
Puncak acara adalah pemberian gelar adat dari masyarakat Pepadun kepada Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, sebagai penghormatan atas dedikasinya menjaga keamanan dan persatuan. Tokoh adat Marga Pungguk Kotabumi, Ansori Sabak, menyebut Begawi Festival sebagai tonggak pelestarian budaya Lampung.
"Ini kegiatan yang sangat baik dan harus terus dilestarikan. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat luas dapat melihat bahwa budaya Lampung memiliki keindahan, nilai luhur, dan sakralitas yang luar biasa. Semakin banyak yang mengenal budaya Lampung, semakin besar pula peluang warisan leluhur ini tetap hidup dari generasi ke generasi," katanya.
Menjelang sore, prosesi usai. Namun semangat Begawi Festival tetap bergema. Di tepi Radin Inten Beach, Sai Bumi Ruwa Jurai bukan lagi sekadar semboyan, melainkan kehidupan nyata yang dirawat oleh persaudaraan dan tekad menjaga warisan leluhur.