Forum strategis National Policy Convening Indonesia bertajuk Charting the Blueprint for AI-Inclusive Indonesia. Foto: Kumpul Impact.
AI Dinilai Jadi Kunci UMKM Naik Kelas, Kolaborasi Lintas Sektor Diperkuat
Husen Miftahudin • 13 July 2026 09:56
Jakarta: Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong mampu mengoperasikan sekaligus memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung pengembangan usaha. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai penting guna meningkatkan daya saing UMKM Indonesia di tingkat global.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan lembaga penggerak ekosistem kewirausahaan dan inovasi, Yayasan Ruansa Dampak Bersama (Kumpul Impact) sebagai mitra pelaksana AIM ASEAN di Indonesia melalui penyelenggaraan forum strategis National Policy Convening Indonesia bertajuk Charting the Blueprint for AI-Inclusive Indonesia.
Forum yang dipimpin ASEAN Foundation bekerja sama dengan AVPN serta didukung Google.org dan Asian Development Bank (ADB) itu menjadi ruang kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk menyusun arah kebijakan adopsi AI yang inklusif bagi UMKM.
Founder & Chairperson Kumpul Impact, Faye Wongso, mengatakan tema "Cetak Biru" mencerminkan tanggung jawab besar dalam memastikan visi AI yang inklusif dapat diwujudkan. Menurut dia, sebagaimana sebuah bangunan memerlukan cetak biru agar kokoh, kebijakan AI juga harus disusun berdasarkan kondisi riil di lapangan.
"Kebijakan sehebat apa pun di atas kertas tidak akan bermakna jika gagal menjawab tantangan keseharian UMKM. Karena itu, National Policy Convening ini hadir untuk memastikan arah kebijakan dirumuskan berdasarkan lived experience para pelaku usaha di akar rumput," tegas Faye dalam keterangan tertulis, Senin, 13 Juli 2026.
Faye menambahkan, Kumpul Impact mengadaptasi filosofi rotan dalam pendekatan kolaborasi pentahelix guna membangun cetak biru kebijakan yang tangguh sekaligus fleksibel. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memastikan AI hadir untuk memberdayakan, bukan justru meminggirkan pelaku UMKM.
Baca Juga :
Pendampingan Berkelanjutan Dongkrak Omzet UMKM
Perluas akses AI bagi UMKM
Pendekatan tersebut selaras dengan visi regional AIM ASEAN. Project Manager AIM ASEAN, Eci Ernawati, mengatakan inisiatif itu bertujuan membuat teknologi AI lebih mudah diakses, dipahami, dan diterapkan oleh UMKM sebagai tulang punggung perekonomian kawasan.
"National Policy Convening hadir sebagai jembatan kolaborasi untuk merumuskan kebijakan berdasarkan pengalaman langsung di lapangan. Keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari seberapa banyak UMKM yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup, mengembangkan usaha, dan pada akhirnya naik kelas," ujar Eci.
Pandangan serupa disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala. Ia menilai AI perlu diposisikan sebagai instrumen untuk memperluas kesempatan bagi pelaku UMKM, bukan hanya dinikmati pelaku usaha berskala besar.
"Teknologi ini tidak boleh menjadi privilese segelintir pelaku besar, tetapi harus memperluas daya saing jutaan UMKM Indonesia. Karena itu, dorongan inovasi wajib diimbangi dengan regulatory enablement melalui penciptaan ekosistem yang aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Kebijakan yang baik tidak hanya dirancang untuk UMKM, tetapi dirancang bersama UMKM, berbasis pembelajaran nyata dari lapangan," kata Tiar.
Forum tersebut ditargetkan menghasilkan tiga dokumen utama, yakni Ringkasan Eksekutif, Ringkasan Kebijakan Publik, serta Perangkat Media dan Advokasi. Ketiganya diharapkan menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan digital nasional yang mendukung pemanfaatan AI secara inklusif oleh UMKM.

(Ilustrasi AI. Foto: dok Metrotvnews.com)
Jangkau lebih dari 16 ribu UMKM
Sebagai dasar pembahasan dalam National Policy Convening, Kumpul Impact memaparkan temuan awal dari implementasi AIM ASEAN yang telah menjangkau 16.037 UMKM di 32 provinsi. Sebanyak 62,2 persen peserta program merupakan perempuan.
Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan rekomendasi kebijakan AI yang lebih inklusif dan sesuai kebutuhan pelaku usaha di lapangan. Beberapa hasil implementasi AIM ASEAN meliputi:
- Ekosistem lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan adopsi AI. Daerah yang memiliki kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, komunitas UMKM, dan mitra pembangunan menunjukkan tingkat partisipasi serta keberlanjutan program yang lebih tinggi.
- Kesenjangan literasi digital dan literasi keuangan masih menjadi tantangan utama yang memengaruhi kesiapan UMKM dalam mengadopsi teknologi AI secara optimal.
- Praktik baik di Kabupaten Kuningan memperlihatkan sinergi lintas pemangku kepentingan mampu mempercepat adopsi AI sekaligus memperkuat kapasitas pelaku UMKM di tingkat daerah.
Kumpul Impact menilai berbagai pembelajaran tersebut menjadi fondasi penyusunan rekomendasi kebijakan sehingga hasil yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan aspirasi para pemangku kepentingan, tetapi juga didasarkan pada pengalaman implementasi di lapangan.