Menkes: Kurang Aktivitas Fisik Masuk 5 Besar Masalah Kesehatan Masyarakat

Menkes Budi Gunadi Sadikin (paling kanan) mengikuti BTN Run for Disabilities di Solo. Metrotvnews.com/ Triawati

Menkes: Kurang Aktivitas Fisik Masuk 5 Besar Masalah Kesehatan Masyarakat

Triawati Prihatsari • 7 February 2026 16:24

Solo: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut kurang aktivitas fisik masuk dalam lima besar masalah kesehatan di masyarakat. Hal itu diketahui melalui program cek kesehatan gratis (CKG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. 

"Kesehatan kan orang mengira karena enggak kena penyakit jantung, stroke. Padahal penyebab-penyebab penyakit jantung stroke itu salah satunya karena kurang aktivitas fisik. Pak Prabowo kan sudah menyelenggarakan program cek kesehatan gratis bagi seluruh masyarakat. Temuan kita di dewasa dan lansia itu, kurang aktivitas fisik masuk lima besar masalah kesehatan selain gigi, tekanan darah tinggi, juga ada tekanan jiwa," beber Budi, usai mengikuti kegiatan BTN Run for Disabilities, Run for Inclusivity (Road to BTN Jakim), di Stadion Manahan Solo, Sabtu, 7 Februari 2026. 


Menkes Budi Gunadi Sadikin (paling kanan) mengikuti BTN Run for Disabilities di Solo. Metrotvnews.com/ Triawati 

Terkait itu, ia mengapresiasi langkah sektor swasta yang turut mendorong masyarakat untuk bergerak dan beraktivitas melalui penyelenggaraan acara olahraga. Termasuk BTN yang menggelar kegiatan lari bersama kaum disabilitas kali ini.

Menurutnya, kaum disabilitas memperoleh hak sama dalam pelayanan kesehatan dan pelayanan lainnya. Untuk mendorong masyarakat beraktivitas, tidak bisa dilakukan sendiri, harus kolaborasi dengan semua sektor.

"Di BTN Run di sini mendorong agar aktivitas fisik bagi seluruh warga apalagi yang makin usianya lanjut itu digerakkan. Termasuk kaum disabilitas karena disabilitas kan harus mendapatkan hak pelayanan kesehatan, layanan pendidikan, pekerjaan yang sama. Karena mereka masyarakat kita juga saudara-saudara kita. Kegiatan seperti ini tidak bisa dilakukan hanya dalam bentuk program pemerintah karena kan jangkauannya luas sekali. Kita bikin program lari harus jadi gerakan di mana setiap masyarakat merasakan ini adalah tugas dari dia atau kemauannya dia sendiri," ujar Budi. 

Baca Juga :

Cek Kesehatan Gratis di Solo Ditargetkan Capai 60 Persen Tahun Ini


Wali Kota Solo Respati Solo menegaskan, Pemkot Solo berkomitmen untuk terus meneguhkan Kota Solo sebagai Kota Inklusif. Ia berharap setelah kegiatan BTN Run for Disabilitas akan diikuti kegiatan lari lainnya bersama kaum difabel.

"Saya berharap event lari lainnya akan membuka kelas-kelas disabilitas juga. Akan semakin mencanangkan Kota Solo sebagai Kota Inklusif," ungkap Respati.

Di sisi lain, Direktur BTN Setiyo Wibowo menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian menuju Jakarta International Maraton (JIM) yang akan digelar Juni 2026 mendatang. 

"Diharapkan melalui kegiatan ini mampu membangkitkan semangat kita bersama kaum disabilitas. Bahwa kita bisa berlari bersama. Dan ini merupakan kegiatan menuju JIM," kata Bowo. 

Kegiatan BTN Run for Disabilities, Run for Inclusivity (Road to BTN Jakim) melibatkan atlet-atlet dari National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) dan beberapa komunitas lari di Kota Solo.  Wasekjen NPC Indonesia Rima Ferdianto berharap akan semakin banyak acara serupa yang melibatkan kaum difabel.

"Harapannya ke depan dengan adanya even seperti BTN ini, kesadaran terhadap disabilitas semakin meningkat dari Sabang sampai Merauke. Para orang tua mulai terbuka karena ternyata perhatian negara terhadap penyandang disabilitas 100 persen. Terimakasih BTN, jangan bosan-bosan membuat kegiatan dengan tema olahraga yang sama seperti ini melibatkan disabilitas, menonjolkan yang positif," ungkap Rima.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)