'Mengawinkan' Arsitektur Berkelanjutan dan Inovasi Desain Berbasis Lingkungan

Mengawinkan arsitektur berkelanjutan dan inovasi desain berbasis lingkungan. Foto: dok Lixil.

'Mengawinkan' Arsitektur Berkelanjutan dan Inovasi Desain Berbasis Lingkungan

Ade Hapsari Lestarini • 15 April 2026 23:54

Jakarta: Dinamika pembangunan di Indonesia terus bergerak progresif, dengan kualitas ruang hidup yang kini tidak hanya diukur dari estetika, tetapi juga aspek kesehatan, kenyamanan, dan keberlanjutan.

Dalam konteks tersebut, pelaku industri memegang peran strategis dalam menentukan standar kualitas hidup masyarakat jangka panjang. LIXIL sebagai perusahaan global di bidang solusi air dan hunian berkelanjutan mengambil peran aktif dalam mendorong penguatan ekosistem arsitektur di Indonesia. Perusahaan meyakini peningkatan kualitas hunian dan ruang publik hanya dapat dicapai ketika desain dan teknologi bersinergi, saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.

"Prinsip gotong royong merupakan fondasi masyarakat kita dalam bertumbuh dan hidup berdampingan. Kemajuan pembangunan saat ini juga sangat bergantung pada kekuatan ide dan kebersamaan. Melalui semangat kolaborasi lintas sektor, LIXIL berkomitmen menjadi mitra strategis yang menghadirkan ruang agar kami dan para profesional di industri ini dapat terus berkembang bersama, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional dalam mewujudkan kualitas ruang hidup yang lebih baik bagi masyarakat," ujar Marketing Director, LIXIL Water Technology Indonesia Arfindi Batubara, dalam keterangan tertulis, Rabu, 15 April 2026.

LIXIL tidak hanya menawarkan solusi yang fungsional, tetapi juga membuka akses terhadap perspektif dan peluang baru bagi para profesional di industri. Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai upaya yang konsisten dijalankan, mulai dari partisipasi dalam beragam platform edukasi dan diskusi komunitas, hingga inisiatif perusahaan yang mengintegrasikan desain arsitektur dengan inovasi teknologi dalam konteks proyek nyata.

"Melalui keterlibatan rutin dari tahun ke tahun di berbagai ajang industri, salah satunya seperti ARCH:ID, hingga program inisiasi kami seperti LADC (LIXIL Architectural Design Competition) dan LDAD (LIXIL Day of Architecture and Design), kami terus aktif memperkuat wadah bagi para profesional terkait untuk bisa saling berkolaborasi dan menciptakan standar baru di ekosistem industri," jelas Arfindi.


 

 

Paviliun OASE: Architecture in the Water Cycle


Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan, LIXIL kembali berpartisipasi dalam ARCH:ID 2026, ajang arsitektur terbesar di Indonesia yang menjadi titik temu para arsitek, developer, interior designer, produsen material, hingga berbagai pihak pendukung lainnya. Pada kesempatan kali ini, LIXIL menghadirkan Paviliun "OASE: Architecture in the Water Cycle", hasil kolaborasi dengan arsitek Adi Purnomo dari Mamostudio serta sejumlah pakar lintas disiplin.

Berbeda dengan instalasi pameran konvensional yang umumnya hanya sekadar menampilkan produk dan bersifat sementara hingga berisiko limbah, OASE dari LIXIL mengedepankan prinsip keberlanjutan. Seluruh elemen utama, seperti air dan tanaman, dirancang agar dapat dialihfungsikan kembali (repurposed) sebagai bagian dari komponen pendukung lanskap untuk proyek lain ke depan. Selain itu, melalui pendekatan berbasis riset dan kolaborasi dengan para peneliti, paviliun ini siap menjadi ruang edukasi yang mengundang pengunjung untuk terlibat dalam dialog mengenai masa depan arsitektur dan lingkungan.

"Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan banyak pihak, bahkan hingga peneliti lingkungan dan sosial, paviliun ini akan memperkaya pengalaman pengunjung dalam memahami relasi antara air, sanitasi, lingkungan, dan sejarah perkembangannya, terutama di kawasan urban. Proyek ini sekaligus membuktikan bagaimana sinergi lintas disiplin dapat menciptakan 'OASE', baik secara arti kiasan maupun harafiah," ungkap Founder, Mamostudio, Adi Purnomo.

Guna memperkuat fungsinya sebagai wadah pertukaran gagasan, Paviliun LIXIL juga akan menghadirkan serangkaian aktivitas strategis, di antaranya, "Step into the Oasis"-sesi open house pada 23 April 2026 yang menerjemahkan konsep arsitektur dan narasi di balik terciptanya paviliun. Selain itu, pada 24 April 2026, akan digelar Alun-alun Talks dengan topik "From Data to Design: Rethinking Architecture Through Environmental Intelligence" yang akan menjadi kesempatan berdiskusi langsung bersama para pakar mengenai bagaimana data lingkungan dapat diolah menjadi sumber inspirasi desain yang adaptif dan solutif.

Melalui kehadiran paviliun dan rangkaian program ini, LIXIL mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih luas sekaligus memperkuat komitmen perusahaan dalam mendukung ekosistem arsitektur Indonesia yang semakin adaptif, berkelanjutan, dan relevan dalam menjawab tantangan masa depan.

Komitmen LIXIL diperkuat melalui visi jangka panjang perusahaan, yaitu LIXIL Environmental Vision 2050, yang menargetkan pencapaian operasi bisnis yang netral karbon, efisiensi penggunaan air secara signifikan, serta kontribusi terhadap peningkatan akses sanitasi global. Visi ini menjadi landasan dalam setiap inovasi dan solusi yang dikembangkan, termasuk dalam mendukung desain arsitektur urban yang lebih berkelanjutan.

"Kolaborasi adalah standar baru dalam industri. Dengan menyatukan keahlian dan inovasi, kita dapat menciptakan ruang hidup yang tidak hanya fungsional dan estetis, tetapi juga memberikan dampak positif yang nyata bagi lingkungan, untuk masyarakat hari ini dan generasi masa depan," jelas Arfindi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)