Sanksi Rusia dan Rencana Produksi OPEC+ Bikin Harga Minyak Anjlok

Ilustrasi harga minyak dunia turun. Foto: Daily News Egypt.

Sanksi Rusia dan Rencana Produksi OPEC+ Bikin Harga Minyak Anjlok

Husen Miftahudin • 29 October 2025 08:55

Houston: Harga minyak merosot sekitar USD1 per barel pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), dan berada di jalur penurunan hari ketiga berturut-turut.
 
Ini terjadi karena investor mempertimbangkan dampak sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia terhadap pasokan global. Selain itu, juga karena potensi rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi.
 
Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 29 Oktober 2025, harga minyak mentah Brent turun USD1,09, atau 1,7 persen, menjadi USD64,53 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun USD1,03, atau 1,7 persen, menjadi USD60,28.
 
Brent dan WTI minggu lalu mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Juni, bereaksi terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi terkait Ukraina terhadap Rusia untuk pertama kalinya dalam masa jabatan keduanya, yang menargetkan perusahaan minyak Lukoil dan Rosneft.
 
Menyusul sanksi AS, produsen minyak terbesar kedua Rusia, Lukoil, mengatakan pada Senin akan menjual aset internasionalnya.
 
Ini menjadi tindakan paling penting sejauh ini yang dilakukan oleh perusahaan Rusia menyusul sanksi Barat atas perang skala penuh Rusia di Ukraina, yang dimulai pada Februari 2022.
 
Diketahui, Lukoil yang berkantor pusat di Moskow menyumbang sekitar dua persen dari produksi minyak global.
 

Baca juga: Harga Minyak Dunia Stabil saat AS-Tiongkok Mesra Lagi


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

OPEC+ kerek produksi

 
Di sisi lain, OPEC+, yang mengelompokkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, condong ke arah peningkatan produksi pada Desember.
 
Itu terjadi setelah membatasi produksi selama beberapa tahun untuk mendukung pasar minyak. Kelompok tersebut diketahui juga terlah membatalkan pemotongan produksi tersebut pada April.
 
CEO perusahaan minyak negara Saudi Aramco mengatakan pada Selasa, permintaan minyak mentah kuat bahkan sebelum sanksi dijatuhkan pada Rosneft dan Lukoil, dan permintaan Tiongkok masih sehat.
 
Sementara itu, investor akan memperhatikan prospek kesepakatan perdagangan antara AS dan Tiongkok, dua konsumen minyak terbesar dunia, dengan Trump dan Presiden Xi Jinping akan bertemu pada Kamis di Korea Selatan.
 
Beijing berharap Washington dapat menemuinya di tengah jalan untuk mempersiapkan interaksi tingkat tinggi antara kedua negara, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melalui panggilan telepon pada Senin.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)