Konser Yayaya Fest 2026 dengan mengusung inklusivitas. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Saat Penonton Difabel Merasa Dimanusiakan di Konser Inklusif
Ahmad Mustaqim • 27 October 2026 11:41
Yogyakarta: Ribuan orang memadati Stadion Kridosono, Yogyakarta, pada Minggu malam, 25 Oktober 2026. Lima grup musik, yakni Jumat Gombrong, Guyon Waton, Rebellion Rose, Lomba Sihir, dan MALIQ & D’Essentials, menghibur penonton dengan penampilan mereka.
Di tengah kemeriahan acara, aksi kemanusiaan turut mewarnai suasana. Sejumlah penonton difabel hadir dan mengaku tetap merasa nyaman menikmati pertunjukan meski memiliki keterbatasan.
"Peduli sekali. Kami sudah mengarahkan ke difabel senang-senang," kata salah seorang pengunjung konser, Mitro, bertajuk Yayaya Fest 2026 itu.
Baca Juga :
Mitro menjadi salah seorang difabel netra di lokasi itu. Sejak awal datang, ia sudah disambut dengan ramah panitia konser di lokasi.
Mitro terlebih dahulu diajak berdialog untuk mengetahui kondisinya. Panitia konser yang telah membagi tugas membantu pengunjung yang membutuhkan pendampingan.
"Panitia tanggap sekali. Saya merasa senang sekali. Harapannya kontinyu ada seperti ini," ungkapnya.
Fasilitasi bagi difabel hingga pemberian pengetahuan sosial hingga lingkungan diberikan pada kegiatan itu. Bagi kelompok difabel yang hadir, mereka merasa dimanusiakan.
"Senang rasanya, ada konser yang inklusif. Selama ini takut kalau mau ke konser berdesak, berdiri lama capek, tapi di sini disediakan tempat khusus jadi nggak capek," ujar Ani Vero, warga Suryodiningratan, Kota Yogyakarta.
Perempuan berusia 45 tahun itu mengatakan dirinya bisa beraktivitas sendiri sejak tiba di pintu masuk. Saat memasuki area konser, Ani Vero mendapat pendampingan dari panitia.
Baginya, pengalaman menonton konser yang inklusif ini menjadi yang pertama. Ia mengaku beberapa kali mengalami diskriminasi, termasuk tidak bisa bekerja jadi pegawai.
"Untuk di sini tadi juga diberi tahu ada toilet khusus difabel. Ini jadi contoh sangat positif. Harapannya Jndonesia semakin inklusif," ujarnya.
Inisiator Yayaya Fest, RA Yashinta Sekarwangi Mega mengatakan momen tersebut ditujukan menyediakan wadah/ruang bagi temen2 di Yogyakarta termasuk kelompok disabilitas. Wadah dan ruang yang aman, nyaman, dan inlusif untuk semua.
"Siapa pun yang hadir, kami ajak merasakan suka, luka, dan duka pada 2026, karena apapun perjuangannya patut dirayakan," tutur dia.

Para difabel saat menonton konser tanpa merasakan diskriminasi. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Ada berbagai komunitas digandeng, seperti Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (Kophi), Sadar Belajar, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), hingga Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (Sigab) Indonesia. Dari aspek lingkungan, para peserta diminta terlibat menghitung estimasi pemakaian sejak berangkat hingga kepulangan.
"Ada empat isu yang bisa dipelajari; perempuan dan anak, lingkungan, inklusivitas, dan antikekerasan. Keempat isu utama tak hanya berhenti pada festival itu," kata dia.
Ia mengatakan para komunitas akan menjaga kolaborasi dalam beberapa kegiatan ke depan, termasuk penanaman mangrove hingga perawatannya. Selain komunitas, penonton umum bisa mengenali kegiatan para komunitas dan membuka diri untuk terlibat
"Harapannya para komunitas muda bisa mengenal komunitas tersebut, membangun jejaring, supaya bisa menggodog kebijakan letika bicara tentang isu-isu tadi," ucapnya.