Ketika Deretan Toko Ultra Mewah di Prancis Tak Luput dari Kerusuhan

Etalase Luis Vuitton yang rusak akibat kerusuhan akhir pekan di Prancis. Foto: Viory

Ketika Deretan Toko Ultra Mewah di Prancis Tak Luput dari Kerusuhan

Fajar Nugraha • 19 October 2026 12:05

Marseille: Etalase toko barang mewah yang hancur, barikade yang masih berasap, serta bangunan yang dipenuhi coretan grafiti tampak di sepanjang jalan kota Marseille, Prancis pada Minggu 18 Oktober 2026.

Pemerintah kota setempat mendata kerusakan akibat aksi protes, bentrokan, dan penjarahan yang penuh kekerasan.



Rekaman memperlihatkan jendela-jendela toko Louis Vuitton, Rolex, dan Montblanc yang pecah, puing-puing sisa kebakaran yang berserakan di jalanan, serta grafiti yang disemprotkan pada berbagai toko dan kantor polisi. Pekerja kota juga terlihat sedang membersihkan puing-puing tersebut.

“Aksi protes ini diikuti oleh 550.000 orang di seluruh negeri, sementara pihak penyelenggara menyebutkan angka 800.000 orang,” ujar pernyataan Kementerian Dalam Negeri Prancis, seperti dikutip dari Viory, Senin 19 Oktober 2026.

Para demonstran menuntut tindakan terkait melonjaknya biaya hidup, pendanaan pendidikan, dan layanan publik. Namun, kekerasan justru meletus di beberapa kota. Para perusuh terlibat bentrokan dengan polisi, menghancurkan etalase toko, dan menyasar bangunan-bangunan publik.



Di Limoges, para perusuh membakar gedung balai kota yang bersejarah. Balai kota berhias dari abad ke-19 di kota tersebut hangus terbakar akibat kebakaran yang dipicu perusuh pada Sabtu. Menara jam dan atap bangunan runtuh ketika api melalap gedung tersebut.

Sementara di Marseille, massa menyerbu balai kota dan merusak properti pemerintah di Bordeaux.

Kerusuhan ini juga memicu kritik terhadap taktik kepolisian, menyusul adanya laporan mengenai demonstran yang terluka selama bentrokan berlangsung.

Peringatan Macron

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan “ketenangan dan ketertiban” setelah demonstrasi besar-besaran pada Sabtu, 17 Oktober 2026 berujung pada kerusuhan dan penjarahan.

Sejumlah gangguan keamanan masih berlanjut di Paris pada Minggu. Dalam pidato nasional dari Istana Élysée, Macron memperingatkan para pelaku agar tidak memperburuk situasi. Ia mengatakan masyarakat sama-sama merasakan kemarahan dan rasa malu atas peristiwa tersebut.

Sekitar 550.000 demonstran turun ke jalan dalam aksi yang sebagian besar berlangsung damai. Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar, biaya hidup, serta memburuknya layanan publik, termasuk pendidikan.



Macron menegaskan perlunya membedakan tuntutan demonstran yang sah dari tindakan pihak-pihak yang merusak dan menjarah.

“Tidak ada yang membenarkan” kekerasan yang tidak terkendali, kata Macron, dikutip dari BBC, Senin, 19 Oktober 2026. 

Ia menambahkan bahwa para pelaku akan menghadapi proses hukum. Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sekitar 2.400 orang telah ditangkap.

Kerusuhan Meluas ke Sejumlah Kota

Kelompok perusuh, beberapa di antaranya mengenakan pakaian hitam, masker, dan penutup wajah, juga beraksi di Paris, Marseille, serta kota-kota lainnya. Sejumlah pelaku membakar mobil dan bangunan.

Pada Minggu, penjarahan dan bentrokan dengan polisi masih terjadi dalam skala lebih kecil di sejumlah wilayah Paris dan Lyon.

Menurut kantor berita AFP, gas air mata dan granat kejut ditembakkan ke arah ratusan orang di Paris. Botol dan batu kembali dilemparkan ke arah polisi.

(Fajar Nugraha)