Jusuf Wanandi, Pemikir Strategis untuk Wantimpres RI

Presiden Prabowo Subianto pun memanggil Jusuf Wanandi untuk bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI. Foto: Metro tv/BPMI Setpres

Jusuf Wanandi, Pemikir Strategis untuk Wantimpres RI

Fajar Nugraha • 2 October 2026 16:22

Jakarta: Dr. Jusuf Wanandi sudah tidak asing lagi dalam lanskap politik luar negeri, diplomasi publik, dan pemikiran strategis Indonesia.

Dilansir dari Breaking News Metro TV, Jumat, 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto pun memanggil Jusuf untuk bergabung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres RI).

Pria kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 15 November 1937 ini dikenal sebagai intelektual senior sekaligus aktivis politik yang memiliki pengaruh kuat dalam dinamika kebijakan internasional Indonesia selama beberapa dekade.

Pendidikan dan Awal Kiprah Politik

Jusuf Wanandi meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia (UI). Di masa mudanya, ia merupakan aktivis pergerakan mahasiswa yang terlibat aktif dalam jajaran kepemimpinan organisasi kepemudaan serta perpolitikan nasional di era peralihan menuju Orde Baru.

Kiprahnya di ranah politik formal tecatat saat ia dipercaya mengemban tugas legislatif dan pemerintahan:
Sekretaris Dewan Pertimbangan Agung (DPA) (1964–1965)
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) (1968–1972)
Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) (1972–1977)

Membangun CSIS dan Diplomasi Jalur Dua

Peran paling fenomenal Jusuf Wanandi tercatat saat ia turut mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 1971.

Sebagai salah satu lembaga pemikir (think tank) paling berpengaruh di Asia Tenggara, CSIS menjadi pusat analisis politik, ekonomi, dan keamanan kawasan yang kerap melahirkan masukan strategis bagi kebijakan diplomasi pemerintah.

Di CSIS, Jusuf menduduki berbagai posisi kepemimpinan penting:
Direktur Eksekutif CSIS (1986)
Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan CSIS
Senior Fellow dan Anggota Dewan Penyantun CSIS

Lewat jaringan CSIS, Jusuf menjadi tokoh sentral dalam track two diplomacy (diplomasi jalur dua), memperkuat hubungan geopolitik Indonesia dengan negara-negara di Asia-Pasifik, Amerika Serikat, hingga Eropa.

Ia juga dipercaya memegang kepemimpinan di berbagai badan internasional, seperti Co-Chair pada Pacific Economic Cooperation Council (PECC) serta jajaran Gubernur di East-West Centre, Honolulu, Hawaii.

(Fajar Nugraha)