10 Besar Investor Asing di Indonesia 2026, Singapura Teratas

Ilustrasi. Foto: Freepik.

10 Besar Investor Asing di Indonesia 2026, Singapura Teratas

Eko Nordiansyah • 20 October 2026 18:16

Jakarta: Singapura menempati peringkat pertama sebagai negara dengan realisasi penanaman modal asing (PMA) terbesar di Indonesia pada 2026. Berdasarkan data Satu Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai realisasi investasi Singapura tercatat sebesar USD8,82 miliar.

Hong Kong menempati posisi kedua dengan nilai USD7,64 miliar, disusul Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar USD3,90 miliar. Data tersebut ditampilkan dalam visualisasi Peringkat Realisasi Investasi berdasarkan negara untuk periode 2026.

Daftar 10 besar investor asing di Indonesia

Berikut 10 negara dengan realisasi investasi asing terbesar berdasarkan data Satu Data BKPM:
  1. Singapura: USD8,82 miliar.
  2. Hong Kong: USD7,64 miliar.
  3. Tiongkok: USD3,90 miliar.
  4. Jepang: USD1,89 miliar.
  5. Amerika Serikat: USD1,72 miliar.
  6. Malaysia: USD1,07 miliar.
  7. Korea Selatan: USD880,39 juta.
  8. Inggris: USD677,13 juta.
  9. Belanda: USD519,54 jutam
  10. Kepulauan Virgin Inggris: USD441,46 juta.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Realisasi investasi dalam negeri

Selain penanaman modal asing, visualisasi BKPM mencatat realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar USD30,48 miliar pada periode yang sama.

Per September 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyebutkan realisasi investasi sebesar Rp1.539,2 triliun dengan menyerap 2,19 juta tenaga kerja baru. Capaian investasi nasional tersebut telah memenuhi 75,4 persen dari target yang ditetapkan oleh pemerintah sepanjang tahun.

Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp777,8 triliun atau 50,5 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mencapai Rp761,4 triliun.

Sementara, investasi yang mengalir khusus ke sektor hilirisasi pada periode Januari hingga September 2026 telah mencatatkan nilai yang signifikan sebesar Rp480 triliun.

Sektor mineral tetap menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp335,1 triliun yang mencakup komoditas nikel, bauksit, besi baja, tembaga, hingga pasir silika. Kemudian, perkebunan dan kehutanan Rp83,6 triliun, minyak dan gas bumi Rp54 triliun, dan perikanan dan kelautan Rp7,3 triliun. (Hasri Khairunnisa)

(Eko Nordiansyah)